Baru Berdinas 1 Tahun, Bripda Dirja Diduga Tewas Dianiaya Senior di Asrama Polisi

Sejumlah keluarga korban anggota Polri inisial Bripda DP yang diduga mengalami kekerasan oleh seniornya hingga meninggal dunia masih menunggu hasil pemeriksaan di area Biddokkes Rumah Sakit Bayangkara Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (22/2/2026). ANTARA

Baru Berdinas 1 Tahun, Bripda Dirja Diduga Tewas Dianiaya Senior di Asrama Polisi

Whisnu Mardiansyah • 22 February 2026 19:27

Makassar: Seorang anggota Polri muda berpangkat bripda berinisial DP dilaporkan tewas diduga dianiaya seniornya di dalam Asrama Polisi (Aspol), kompleks Kantor Polda Sulawesi Selatan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Korban diketahui bernama Bripda Dirja Pratama, 19, bintara muda asal Kabupaten Pinrang yang baru sekitar setahun bertugas.

Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendi mengungkapkan pihaknya masih mendalami penyebab kematian korban. Enam orang telah diperiksa terkait peristiwa tersebut.

"Kita belum bisa pastikan, korban pengeroyokan atau bukan. Yang pasti kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap enam orang termasuk rekan atau lichtingnya dan seniornya DP. Mungkin bertambah lagi nanti (yang diperiksa)," ujar Zulham di Makassar seperti dilansir Antara, Minggu, 22 Februari 2026.

Peristiwa tersebut diketahui setelah polisi menerima informasi dari Direktorat Samapta Polda Sulsel terkait adanya keluhan korban usai salat subuh setelah sahur. Laporan awal, korban dikabarkan jatuh sakit saat berada di asrama polisi tersebut. Selanjutnya dilarikan ke RSUD Daya untuk penanganan medis.

Namun naas, nyawa korban tidak dapat tertolong dan dinyatakan meninggal dunia. Awalnya pihak keluarga dikabari korban sakit, tetapi saat mendatangi rumah sakit, mereka menemukan kejanggalan. Tubuh korban mengalami memar dan mulut berdarah.
 


Sebelum dibawa ke rumah sakit, korban sempat mengeluarkan darah dari mulut. Informasi yang diperoleh menyebutkan, Bripda Dirja Pratama adalah lulusan Bintara Polri tahun 2025 dan baru bertugas di Direktorat Samapta Polda Sulsel.

Merasa ada kejanggalan atas kematian almarhum, keluarga kemudian membawa jenazah ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk dilakukan tindakan visum. Langkah ini bertujuan memastikan apakah korban mendapat tindakan kekerasan saat berada di asrama polisi.

"Makanya untuk membuktikan itu (tindak kekerasan), kita bawa ke RS Bhayangkara, karena awalnya dibawa ke RS Daya. Saya sudah sampaikan ke Kabid Dokkes Polda Sulsel termasuk kepada dokter yang memeriksa, silakan diperiksa dengan benar, jangan ada yang ditutup-tutupi. Kalau memang ada kekerasan," papar Zulham.

Ia menegaskan Bidang Propam masih mendalami penyebab kematian korban. Jenazah dibawa ke RS Bhayangkara Bidang Dokkes Polda Sulsel untuk dilakukan visum dan otopsi guna memastikan penyebab kematian.

"Ini untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, visum luar maupun visum dalam. Kalau memang keluarga mengizinkan, nanti kita akan lakukan autopsi. Pasti semua prosedur penanganan terkait kejadian ini akan kita tangani secara profesional," paparnya.


Ilustrasi Medcom.id

Kombes Zulham menegaskan pihaknya akan mengungkap kasus ini secara tuntas jika ditemukan kejanggalan. "Kami dari Bidang Propam, insyaallah, kita akan ungkap kalau memang ada kejadian yang di luar dari kejadian umum, atau kejadian yang mencurigakan atau ada kekerasan di situ. Kita akan luruskan dan kita akan tegakkan aturan sesuai dengan aturan yang berlaku," katanya.

Sejauh ini, pihak keluarga korban, ayahnya yang juga anggota polisi bertugas di Polres Pinrang, Aipda H Jabir, beserta istri masih menunggu jenazah anaknya yang dalam proses pemeriksaan visum di RS Bhayangkara. Rencananya, setelah melalui proses tersebut, jenazah akan dibawa ke rumah duka di Kabupaten Pinrang, Sulsel .

Kematian Bripda Dirja Pratama memicu sorotan luas dan tekanan publik. Aktivis Pemerhati Hukum dan HAM Sulsel, Rahmat Hidayat, menilai jika dugaan kekerasan itu terbukti, hal tersebut berpotensi mencederai prinsip profesionalitas dan pembinaan di tubuh kepolisian.

"Tim Reformasi Polri yang telah dibentuk pemerintah mesti mencatat serius peristiwa ini, terutama terkait profesionalitas dalam pembinaan dan pengawasan internal kepolisian di daerah, termasuk di Polda Sulsel," tegasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)