Presiden Prabowo Subianto tiba di Bandara Orly, Paris, Prancis, Selasa, 26 Mei 2026, sekitar pukul 09.50 waktu setempat. Foto: Setpres.
Kunker Presiden Prabowo ke Eropa Perkuat Posisi Geopolitik Indonesia
Anggi Tondi Martaon • 28 May 2026 22:34
Jakarta: Juru bicara (jubir) Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menyebut kunjungan kerja (kunker) Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri untuk memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dengan negara sahabat. Yakni, mengonversi keunggulan komoditas nikel hingga posisi geopolitik Indonesia di kancah internasional.
"Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup," kata Sugiat melalui keterangan tertulis, Kamis, 28 Mei 2026.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu menjelaskan paradigma politik luar negeri bebas-aktif Presiden Prabowo adalah diplomasi ofensif, yaitu sebuah strategi membangun hubungan luar negeri yang proaktif dalam memperjuangkan kepentingan nasional.
Sugiat mengatakan diplomasi ofensif dijalankan dalam merespons serta mengantisipasi krisis. Artinya, Presiden Prabowo mengambil inisiatif untuk menetapkan agenda, membangun aliansi, dan memberikan tekanan strategis agar negosiasi berjalan sesuai tujuannya.
"Prabowo melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Dia mengambil posisi tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan membela warga negaranya dengan terukur," ungkap Sugiat.
Sugiat mengungkapkan bila Prancis punya kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat yang tidak menjual sistem persenjataan canggih atau memberikan komitmen strategis hanya karena pembeli memiliki uang.
"Kedekatan politik yang dibangun bertahap melalui kunjungan berulang adalah syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Macron," sebut Sugiat.
Sementara itu, Austria merupakan gerbang industri manufaktur presisi Eropa Tengah. Menurutnya, industri utamanya berpusat pada mesin, otomotif, pengolahan logam, bahan kimia, dan makanan/minuman.
.jpeg)
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto: Dok. BPMI Sekretariat Presiden.
Sedangkan Hungaria adalah pusat agresif pembangunan gigafactory baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Uni Eropa (tempat berkumpulnya raksasa seperti Samsung SDI dan CATL). Dia menyebut masuk ke Hungaria berarti mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai masa depan Eropa dari pintu yang paling terbuka.
Sugiat menekankan bila Indonesia menguasai 65 persen nikel dunia. Sementara Eropa sebagai melalui gigafabrik di Hungaria/Budapest dan teknologi Austria/Wina sangat butuh nikel Indonesia.
"Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta-minta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia," sebut Sugiat.
Sugiat mengungkapkan dunia saat ini sedang bertransisi ke kendaraan listrik. Namun, Indonesia punya waktu terbatas sebelum teknologi baterai bergeser ke bahan non-nikel.
Untuk itu, dia mengatakan Presiden Prabowo bergerak cepat secara maraton (Paris-Wina-Budapest) dalam satu bulan untuk mengunci investasi hilirisasi sebelum jendela peluangnya tertutup. Menunda perjalanan berarti kehilangan momentum emas.
Tak hanya itu, Sugiat menerangkan sebuah negara tidak bisa mendikte dunia jika militernya lemah. Kunjungan berulang ke Paris adalah cara Prabowo membangun trust tingkat tinggi dengan Presiden Macron agar Indonesia diberi akses teknologi militer yang tidak sembarang negara bisa beli.
Oleh karena itu, Sugiat menegaskan perjalanan Presiden jangan dilihat hanya dari biaya perjalanan. Namun, harus dinilai dari tujuan kunjungan, yaitu memperkuat transfer teknologi pertahanan, pengamanan kedaulatan di Laut Natuna Utara, dan posisi tawar Indonwsia sebagai kekuatan regional.
Baca Juga : "Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik Bebas-Aktif yang berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke China, dan tidak takut pada tekanan NATO saat berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat," ujar Sugiat.
"Pak Prabowo sedang mempraktikkan hedging (keseimbangan geopolitik) tingkat tinggi agar Indonesia tidak bisa diabaikan oleh kekuatan dunia mana pun," imbuh Sugiat.
Dia menyatakan Presiden Prabowo saat ini tidak sedang melakukan diplomasi seremonial atau sekadar tanda tangan di atas kertas. Kepala Negara sedang bertarung di panggung dunia untuk menaikkan kelas Indonesia dari negara berkembang menjadi kekuatan global yang mandiri secara ekonomi dan tangguh secara militer.
"Indonesia sedang dipimpin oleh seorang Patriot yang tahu persis bagaimana cara memenangkan kepentingan nasional di luar negeri. Menilai keberhasilan diplomasi internasional dari hasil beberapa minggu atau bulan adalah cara berpikir yang tidak logis," kata Sugiat.
Sugiat menegaskan, transfer teknologi, dan investasi yang dikunci di Paris, Wina, dan Budapest adalah fondasi jangka panjang. Menurut dia, hasilnya baru akan terlihat nyata dalam hitungan tahun ke depan.
"Pak Prabowo adalah seorang negarawan. Negarawan memberikan apa yang dapat diberikan kepada negara, sedangkan politisi mencari apa yang bisa diperoleh dari negara," tegasnya.