Bocah Kelas 5 SD di Tulungagung Diduga Terpapar Radikalisme Lewat Game Online

Ilustrasi radikalisme. Foto: Dok/Medcom.id

Bocah Kelas 5 SD di Tulungagung Diduga Terpapar Radikalisme Lewat Game Online

Whisnu Mardiansyah • 19 May 2026 06:43

Tulungagung: Unit Pelaksana Teknis Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPPA) Tulungagung secara intensif mendampingi seorang murid kelas 5 sekolah dasar yang diduga terpapar paham radikalisme. Dugaan paparan ini berasal dari kebiasaannya bermain game online serta interaksi di jejaring media sosial.

Kepala UPT Dinas KBPPPA Tulungagung, Dwi Yanuarti, mengungkapkan kasus ini pertama kali terendeteksi pada penghujung tahun 2025. Sejak saat itu, lembaganya rutin memberikan pendampingan psikologis kepada anak maupun orang tuanya demi mencegah meluasnya pengaruh buruk.

"Kami menilai siswa bersangkutan memiliki potensi dan talenta di bidang digital. Tentunya harus diarahkan melalui wadah yang positif," tutur Dwi Yanuarti, seperti dilansir Antara, Senin, 19 Mei 2026.

Berdasarkan hasil asesmen psikologis, tidak ditemukan indikasi radikalisme yang kuat pada diri anak tersebut. Keikutsertaan anak dalam grup media sosial yang menyimpang diduga lebih disebabkan oleh faktor pencarian jati diri serta kebutuhan akan pengakuan di usia remaja.
 


Kendati demikian, petugas tetap melakukan intervensi dini lantaran aktivitas dalam grup tersebut diduga menjadi pintu masuk awal proses pencucian paham.

"Sistem pendampingan kami lakukan secara berkala untuk mengevaluasi metode pemulihan yang dibutuhkan," ujarnya.

Selain pendampingan tatap muka, pihaknya juga menjalin komunikasi rutin dengan siswa dan orang tuanya lewat pesan singkat guna memantau perkembangan kondisi kejiwaan siswa tersebut.

Menurut Dwi, pendekatan yang dipakai lebih mengutamakan cara manusiawi dan persuasif daripada pembatasan yang keras. Tujuannya agar anak tidak merasa tersudut atau melawan.


Ilustrasi. Foto: Freepik.com

Pendekatan emosional seperti mengajak anak beraktivitas di luar rumah serta mempererat komunikasi keluarga dinilai ampuh membantu memulihkan kepercayaan diri siswa tersebut.

Saat ini, kondisi anak disebut perlahan pulih, lebih terbuka, dan kembali giat dalam kegiatan belajar. Anak itu juga diketahui berprestasi secara akademik serta mahir berbahasa Inggris.

"Perubahan perilaku ini menjadi sinyal positif bahwa proses pemulihan berjalan sesuai dengan rencana intervensi psikis yang kami siapkan," tegas Dwi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)