Densus 88 Perkuat Guru Lindungi Remaja dari Radikalisme

Ilustrasi radikalisme. Foto: Dok/Medcom.id

Densus 88 Perkuat Guru Lindungi Remaja dari Radikalisme

Siti Yona Hukmana • 13 March 2026 17:36

Jakarta: Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri memperkuat guru sebagai lini terdepan melindungi remaja dari paparan radikalisme. Hal ini dilakukan karena pesatnya arus informasi digital yang menyasar kerentanan emosional remaja. 

Densus menggandeng Sekolah HighScope Indonesia TB. Simatupang bersama Redea Institute menggelar rangkaian kolaborasi strategis untuk membentengi ekosistem sekolah dari ancaman radikalisme dan kekerasan. Rangkaian program ini dimulai dengan sesi edukasi bagi orang tua dan siswa yang menghadirkan psikolog. 

"Kelompok radikal kini aktif memanfaatkan media sosial untuk mendekati remaja melalui manipulasi psikologis," kata Tim Densus 88 Kompol Ridjoko Suseno, yang hadir bersama Bripda Chaterina Maharani, Jumat, 13 Maret 2026.

Ridjoko mengatakan pelaku tidak lagi muncul dengan wajah yang menakutkan, melainkan menyamar sebagai teman curhat dan menawarkan solusi atas rasa kesepian atau ketidakadilan. Kemudian, hadir sebagai heroisme palsu yang menjanjikan tujuan hidup besar atau petualangan. Lalu, hadir sebagai eksklusivitas yang membuat remaja merasa menjadi bagian dari kelompok "terpilih".

Strategi mitigasi di lingkungan sekolah

Densus 88 mengingatkan pengelolaan emosi yang tidak optimal pada siswa dapat berkembang menjadi tindakan agresif atau keinginan untuk balas dendam. Oleh karena itu, guru dibekali dengan strategi konkret untuk membangun "imunitas" mental siswa
melalui beberapa langkah. 

Pertama, literasi digital dan dekonstruksi narasi. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak siswa membedah konten provokatif dan mengenali narasi "kita lawan mereka". 

Kedua, ruang aman. Menciptakan diskusi terbuka, siswa boleh bertanya tentang
isu sensitif tanpa merasa dihakimi, guna mencegah mereka mencari jawaban di algoritma internet yang ekstrem.

"Ketiga, simulasi keamanan. Memberikan edukasi teknis seperti aktivasi Two-Factor Authentication (2FA) dan mekanisme pelaporan akun yang melakukan grooming radikal," kata Ridjoko. 

Tanggung jawab bersama: pemerintah, sekolah, dan orang tua

Ridjoko mengatakan semua pihak bertanggung jawab atas keselamatan remaja dari paparan paham radikalisme. Pemerintah bisa hadir melalui regulasi, aparat keamanan memberikan perlindungan makro, sekolah dan guru bertanggung jawab penuh dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.

Guru diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai toleransi dan berpikir kritis ke dalam kurikulum, seperti pada mata pelajaran Agama, PPKn, maupun sesi Advisory. Selain itu, sekolah didorong untuk
membentuk tim pencegahan kekerasan serta menyediakan saluran pelaporan anonim (whistleblowing system) bagi siswa yang melihat rekannya mulai terpapar konten berbahaya.

"Melalui sinergi ini, guru berperan lebih dari sekadar pengajar, mereka menjadi mitra strategis bagi orang tua dalam membangun lingkungan pendukung yang konsisten, memastikan remaja memiliki ruang aman untuk bertumbuh baik di lingkungan sekolah maupun di rumah," ungkap Ridjoko. 

Tim Densus 88 Polri Kompol Ridjoko Suseno. Foto. Dok. Istimewa

Pendiri dan CEO Redea Institute Antarina S.F Amir menyadari penting bagi guru untuk tidak sekadar mengajar subject outcomes. Namun, juga memfasilitasi siswa mengembangkan skills dan values melalui learner outcomes. Guru adalah aktor utama yang mendukung siswa mencapai tujuan jangka panjang. 

"Kemampuan inilah yang memungkinkan siswa bersikap kritis dan bijak di dunia digital,” kata Antarina. 

Sebagai garda terdepan, guru disebut harus terus belajar memperbarui strategi pembelajaran. Agar, mampu mendeteksi risiko dan melindungi siswa dari ancaman kekerasan maupun radikalisme.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Siti Yona Hukmana)