Ilustrasi. Foto: Dok MI
Dolar AS Stagnan
Eko Nordiansyah • 19 August 2026 08:52
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak datar pada Selasa, 18 Agustus 2026, karena ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve yang longgar dan meredanya aksi jual obligasi diimbangi ketegangan AS-Iran yang masih berlangsung.
Mengutip Investing, Rabu, 19 Agustus 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama berada sedikit di atas level datar, yakni 99,66. Indeks tersebut sebelumnya turun ke level terendah lebih dari dua bulan di 99,29.
Yield Treasury 30 tahun turun
Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun sempat mencapai 5,335 persen pada Selasa, level tertinggi sejak Juni 2007. Namun, yield tersebut kemudian berbalik turun dan terakhir berada di 5,284 persen, atau melemah 2,6 basis poin.Aksi jual Treasury terjadi meskipun data harga konsumen dan produsen AS pada pekan sebelumnya menunjukkan perkembangan yang moderat. Kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga minyak turut mengimbangi dampak dari data ekonomi yang lebih lemah.

(Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani)
Mayoritas mata uang melemah
Beralih ke mata uang utama lainnya, yen Jepang melemah untuk kali keempat dalam lima sesi perdagangan, dengan pasangan mata uang USD/JPY naik 0,1 persen ke level 159,61. Saat ini, yen telah kehilangan sekitar separuh dari penguatan nilainya terhadap dolar yang terjadi setelah intervensi gabungan bersejarah oleh Washington dan Tokyo pada akhir Juli lalu.Yen juga kembali mendekati angka 160, sebuah level yang sebelumnya pernah memicu intervensi dari pihak Tokyo. Meskipun bank sentral Jepang telah mengisyaratkan potensi percepatan kenaikan suku bunga paling cepat pada bulan September, selisih imbal hasil obligasi tenor dua tahun dan permintaan carry-trade yang terus berlanjut telah menyeret yen mendekati level kunci tersebut.
Di sisi lain, euro turun tipis ke level USD1,1576. Sementara mata uang poundsterling melemah 0,1 persen menjadi USD1,3535.
Dalam perkembangan yang signifikan, rupee India terus melemah, dengan pasangan mata uang USD/INR naik 0,3 persen ke angka 95,839, level tertinggi sejak 28 Juli.
Penurunan nilai rupee ini mencerminkan kondisi sulit bagi mata uang negara berkembang yang bergantung pada impor energi. Kenaikan harga minyak mengancam akan memperlebar defisit transaksi berjalan India, sementara aksi jual obligasi AS telah memicu arus keluar modal asing.
Pelemahan ini terjadi meskipun Reserve Bank of India (RBI) telah melakukan intervensi agresif melalui berbagai langkah. Menurut Reuters, RBI kemungkinan melakukan intervensi di pasar spot untuk sesi kedelapan berturut-turut pada hari Selasa dengan menjual dolar guna meredam depresiasi rupee yang tak terkendali.
RBI juga telah mengambil langkah struktural untuk meredam tekanan spekulatif. Pada hari Senin, bank sentral secara tak terduga mempercepat batas waktu bagi bank komersial untuk memanfaatkan fasilitas swap deposito mata uang asing bersubsidi, memajukan tenggat waktu menjadi 31 Agustus setelah total arus masuk dana melampaui USD50 miliar.