Pertemuan darurat DK PBB mengenai situasi di Timur Tengah digelar di New York pada Selasa, 31 Maret 2026. (Anadolu Agency)
Eskalasi Konflik Israel-Hizbullah Perparah Kondisi Keamanan di Lebanon
Willy Haryono • 1 April 2026 10:30
New York: Situasi di Lebanon terus memburuk akibat eskalasi konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di sepanjang Garis Biru dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam pertemuan di Dewan Keamanan PBB di New York pada Selasa, 31 Maret 2026, Kepala Operasi Penjaga Perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix menyatakan bahwa pertempuran darat dan serangan udara meningkat tajam, memperparah kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Pasukan Israel dilaporkan maju hingga sekitar 11 kilometer ke wilayah Lebanon dan menguasai sejumlah area di utara Garis Biru. Bentrokan sengit dengan Hizbullah terjadi bersamaan dengan peningkatan serangan udara dalam skala besar.
Di tengah konflik, Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mengalami korban jiwa. Tiga prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL gugur dalam dua insiden terpisah pada 29 dan 30 Maret.
PBB menyatakan masih menyelidiki insiden tersebut untuk mengetahui penyebab pasti dan siapa pihak yang bertanggung jawab.
Selain korban jiwa, pasukan penjaga perdamaian UNIFIL juga menghadapi ancaman lain, termasuk pembatasan pergerakan dan serangan langsung. Dalam salah satu insiden, pasukan Israel dilaporkan menembakkan tembakan peringatan ke arah patroli UNIFIL, sementara peluru tank juga jatuh di dekat kendaraan mereka.
“Penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran,” tegas Lacroix, seraya mendesak semua pihak mematuhi kewajiban internasional untuk menjamin keselamatan personel PBB.
Konflik meningkat sejak Hizbullah mengklaim serangan terhadap Israel pada 2 Maret. Sejak itu, serangan roket, rudal, dan drone terjadi hampir setiap hari, sementara Israel juga meningkatkan operasi militernya di Lebanon.
Dalam sepekan terakhir, ribuan lintasan proyektil terdeteksi dari kedua pihak. Serangan udara dan drone juga dilaporkan terjadi di sekitar markas besar UNIFIL di Naqoura.
Di tengah eskalasi, UNIFIL tetap menjalankan mandatnya dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan seperti makanan dan obat-obatan kepada warga sipil.
PBB menegaskan bahwa implementasi penuh Resolusi Dewan Keamanan 1701 menjadi kunci untuk menghentikan konflik dan mencapai perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut. (Keysa Qanita)
Baca juga: Indonesia Desak PBB Kaji Protokol Keamanan UNIFIL usai Gugurnya Tiga Prajurit TNI