Ilustrasi pengangguran. Foto: Freepik.
Pengangguran di Inggris Capai 5,1%, Pekerja Sektor Ritel-Perhotelan Banyak Kena PHK
Husen Miftahudin • 22 January 2026 11:26
London: Kantor Statistik Nasional Inggris atau Office for National Statistics (ONS) melaporkan tingkat pengangguran di Inggris untuk kelompok usia 16 tahun ke atas mencapai 5,1 persen pada periode September hingga November 2025. Meski stabil dibanding periode sebelumnya, angka ini menunjukkan tren peningkatan jika dibandingkan tahun lalu.
ONS menyebut rata-rata total gaji karyawan termasuk bonus tumbuh sebesar 4,7 persen. Namun, jika disesuaikan dengan inflasi (CPI), pertumbuhan pendapatan riil masyarakat Inggris hanya berada di angka 1,1 persen.
Data terbaru menunjukkan kelesuan di pasar tenaga kerja, jumlah karyawan yang terdaftar dalam daftar gaji turun sebanyak 155 ribu antara November 2024 dan November 2025. Dalam skala bulanan terdapat pengurangan 33 ribu karyawan antara Oktober 2025 dan November 2025.
Direktur Statistik Ekonomi ONS Liz McKeown mengatakan pertumbuhan upah di sektor swasta telah melambat ke tingkat terendah dalam lima tahun terakhir. Penurunan ini didominasi oleh dua sektor utama yaitu ritel dan perhotelan.
"Jumlah karyawan yang terdaftar dalam daftar gaji kembali menurun, dengan pengurangan selama setahun terakhir terkonsentrasi di sektor ritel dan perhotelan, mencerminkan aktivitas perekrutan yang terus lemah," ujar Liz, mengutip Xinhua, Kamis, 22 Januari 2026.
| Baca juga: Kenaikan Pajak Bikin Warga Inggris 'Ngerem' Belanja saat Natal |

(Ilustrasi, bendera Inggris dan Uni Eropa. Foto: EPA-EFE)
Pengusaha hadapi biaya operasional yang tinggi
Menanggapi data tersebut, Kepala Kebijakan Sumber Daya Manusia dan Pekerjaan British Chambers of Commerce (BCC) Patrick Milnes menilai pasar tenaga kerja Inggris saat ini sedang dalam fase melonggar.
Meskipun pertumbuhan upah yang stabil memberikan sedikit ruang napas bagi perusahaan, beban biaya tenaga kerja tetap menjadi kekhawatiran utama.
"Tingkat pengangguran tetap stabil di angka 5,1 persen dan jumlah karyawan yang terdaftar terus menurun, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih melonggar," jelas dia.
Milnes menambahkan, kenaikan upah yang tetap stabil memberikan sedikit keringanan bagi bisnis yang telah mengalami pertumbuhan biaya kerja tinggi.
"Kenaikan upah, yang tetap stabil di angka 4,7 persen, memberikan sedikit keringanan bagi bisnis yang telah mengalami pertumbuhan biaya tenaga kerja yang sangat tinggi, dan tahu bahwa masih akan ada lebih banyak kesulitan yang akan datang," terang Milnes.