Rupiah Dibuka Turun ke Rp16.896 per USD

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka Turun ke Rp16.896 per USD

Eko Nordiansyah • 5 March 2026 09:19

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah melemah atas dolar AS yang juga terpukul.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 4 Maret 2026, rupiah berada di level Rp16.896 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun empat poin atau setara 0,02 persen dari Rp16.892 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.906 per USD. Mata uang Garuda melemah dibandingkan pada pembukaan perdagangan pagi kemarin sebesar Rp16.865 per USD.

Baca Juga :

Dolar AS Terpukul, Turun Tipis Usai Naik 2 Hari



(Ilustrasi. Foto: MI/Susanto)
 

Rupiah masih akan melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah pada hari ini. Mata uang Garuda akan berada di rentang Rp16.890 per USD hingga Rp16.940 per USD dengan kemungkinan menembus Rp17 ribu per USD.

Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah dipengaruhi oleh sentimen para pedagang yang mempertimbangkan risiko pasokan di tengah konflik Timur Tengah yang meluas, dimulai pada akhir pekan ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap militer Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Situasi terus memburuk ketika pasukan Israel dan AS melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas yang terkait dengan Iran pada Selasa. Iran menanggapi dengan meningkatkan pengerahan militer di Teluk dan mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran global.

Teheran juga menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur air sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global. Otoritas Iran bersumpah akan menyerang kapal apa pun yang melewati selat tersebut.

Ancaman terhadap Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyuntikkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak.

Mereka mencatat laporan yang mengatakan Irak telah mulai menghentikan produksi di ladang Rumaila, ladang terbesar di negara itu, dan di West Qurna 2, dengan 1,2 juta barel per hari dihentikan produksinya.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan menyediakan pengawalan untuk kapal komersial jika perlu dan menjanjikan dukungan pemerintah untuk menjamin jalur pelayaran yang aman.

"Meskipun eskalasi militer telah menopang harga, tanda-tanda upaya internasional untuk mengamankan jalur pelayaran dapat meredam kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat," ungkap Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)