Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Foto: Dok. Kemenhut.
Menhut Tegaskan Komitmen Transformasi Investasi Konservasi Indonesia
Fachri Audhia Hafiez • 24 June 2026 07:25
Jakarta: Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan komitmen kuat untuk mentransformasi pendekatan konservasi lingkungan. Dari awalnya sekadar pembiayaan perlindungan alam, menjadi bentuk investasi strategis bagi masa depan pembangunan berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni pada sesi pembukaan tingkat tinggi Nature and Finance dalam rangkaian London Climate Action Week 2026. Acara tersebut digelar di London, Inggris, Senin, 22 Juni 2026.
“Indonesia meyakini bahwa alam bukan hanya sesuatu yang harus dilindungi, tetapi merupakan modal pembangunan yang harus dikelola dan diinvestasikan secara berkelanjutan. Karena itu, kita perlu beralih dari paradigma financing conservation menuju investing in conservation,” ujar Raja Juli dalam pidatonya, dikutip pada Rabu, 24 Juni 2026.
Raja Juli menjelaskan bahwa Indonesia memandang kekayaan alam sebagai aset strategis nasional yang menjadi fondasi utama. Khususnya bagi ketahanan ekonomi, pangan, air, stabilitas iklim, hingga kesejahteraan generasi mendatang.
Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia menilai konservasi harus mampu menghasilkan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi secara simultan. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menciptakan pembangunan yang inklusif.
Bentuk Satgas Khusus Taman Nasional
Dalam forum internasional tersebut, Raja Juli turut memperkenalkan pembentukan Presidential Task Force for Innovative Financing for National Parks. Satuan tugas ini dibentuk sebagai platform strategis untuk memperkuat perlindungan dan pemulihan taman nasional, menjaga spesies langka dari ancaman kepunahan, serta mengembangkan sumber pembiayaan berkelanjutan.
Raja Juli juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan masyarakat hukum adat dan komunitas lokal sebagai mitra utama. Sekaligus penerima manfaat langsung dalam pengelolaan kawasan konservasi.
“Pengetahuan, pengalaman, dan hubungan yang telah terbangun selama berabad-abad antara masyarakat dengan alam merupakan modal yang sangat berharga untuk mewujudkan keberhasilan konservasi jangka panjang,” ucap Raja Juli.
Guna mendukung agenda besar tersebut, Pemerintah Indonesia tengah mengidentifikasi peluang pembiayaan yang adaptif dengan karakteristik ekologi di sejumlah taman nasional. Ragam instrumen inovatif yang disiapkan meliputi kredit karbon, kredit biodiversitas, obligasi konservasi spesies, ekowisata, hingga mekanisme debt-for-nature swap.
Selain itu, Indonesia memperkenalkan inisiatif menarik bertajuk “One Species, One Company” untuk mendorong partisipasi aktif sektor swasta dalam membiayai perlindungan satwa ikonik nusantara, seperti badak, orangutan, gajah, harimau, dan cenderawasih.
Dari sisi kelembagaan, tata kelola keuangan kawasan taman nasional juga diperkuat melalui pengembangan skema Badan Layanan Umum (BLU) guna menjamin fleksibilitas dan keberlanjutan pendanaan jangka panjang. Saat ini, pemerintah fokus menyusun prospektus investasi berbasis sains untuk 13 taman nasional prioritas guna menunjukkan nilai nyata jasa ekosistem secara kredibel dan transparan.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (kanan). Foto: Dok. Kemenhut.
Raja Juli melayangkan ajakan terbuka kepada komunitas internasional untuk memperkuat aksi kolektif. Hal ini guna menutup kesenjangan pendanaan konservasi global yang masih sangat besar.
“Indonesia mengundang pemerintah, lembaga pembangunan, organisasi filantropi, lembaga keuangan, dan investor swasta untuk bersama-sama membangun model pembiayaan konservasi yang praktis, terukur, dan berdampak nyata,” kata Raja Juli.