Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: dok Kemenko Perekonomian.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 'Disunat', Airlangga: RI Masih Lebih Baik dari Negara Lain
Husen Miftahudin • 9 April 2026 22:28
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia (World Bank) yang sebesar 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen.
Dia menilai revisi tersebut merupakan hal yang wajar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Penyesuaian proyeksi tak hanya terjadi terhadap Indonesia, tetapi juga pada sejumlah negara lain.
"Dengan situasi perang kan, ya mereka semua menurunkan (proyeksi) di berbagai wilayah," kata Airlangga saat ditemui di kantornya di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 9 April 2026.
Meski demikian, Airlangga memandang proyeksi Bank Dunia itu masih tergolong optimistis karena berada di atas rata-rata prediksi pertumbuhan ekonomi global.
"Tapi kalau kita lihat angka itu juga masih di atas pertumbuhan global rata-rata. Pertumbuhan global rata-rata kan di 3,4 persen, tapi kalau Indonesia sendiri optimis karena nanti di kuartal I (2026) lihat saja hasilnya seperti apa," kata dia.
Airlangga menambahkan, Bank Dunia memiliki metodologi tersendiri dalam menyusun laporan proyeksi ekonomi. Pemerintah Indonesia, kata dia, tetap terbuka dalam menyediakan data tanpa melakukan intervensi terhadap lembaga tersebut.
"Masalah proyeksi kan mereka punya perkiraan sendiri. Tapi kan dalam berbagai hal kita sering hasilnya lebih baik daripada prediksi mereka. jadi gapapa," jelas Airlangga.
| Baca juga: Tepis Proyeksi Bank Dunia, Pemerintah Pede Ekonomi RI Bisa Melejit hingga 5,5% |

(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Perlambatan dipengaruhi tekanan eksternal
Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi Oktober 2025 sebesar 4,8 persen.
Bank Dunia menyebut perlambatan tersebut dipengaruhi tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional (risk-off sentiment).
Meski demikian, lembaga tersebut menilai dampak tekanan sebagian dapat diimbangi oleh pendapatan dari sektor komoditas dan berbagai inisiatif investasi yang didorong pemerintah.
Selain itu, Indonesia dinilai masih memiliki penyangga ekonomi, termasuk dari ekspor komoditas, yang dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek.