Mahasiswa adu gagasan kebijakan atasi polusi udara pada kompetisi yang diinisiasi Bicara Udara. Foto: dok Bicara Udara.
Mahasiswa Adu Gagasan Kebijakan Atasi Polusi Udara
Husen Miftahudin • 6 September 2026 12:19
Jakarta: Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menyusun sejumlah rekomendasi kebijakan untuk menjawab persoalan pencemaran udara perkotaan melalui Biru Voices: Clean Air Policy Competition 2026.
Kompetisi yang diinisiasi Bicara Udara tersebut mengusung tema "Clean Air for All: Advancing Urban Sustainability Solutions". Program ini menjadi bagian dari Biru Voices yang bertujuan membentuk generasi muda sebagai Clean Air Advocates yang berperan dalam mengawal isu kualitas udara dan mendorong kebijakan pengendalian polusi yang lebih efektif serta berkelanjutan.
Setelah melewati rangkaian seleksi dan mentoring, 10 tim finalis mempresentasikan rekomendasi kebijakan dalam babak final yang berlangsung di Gedung Grha Ali Sadikin, Kompleks Balai Kota Provinsi DKI Jakarta. Para finalis memaparkan gagasan di hadapan dewan juri yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintahan, legislatif, dunia usaha, akademisi, hingga organisasi.
Akademisi Universitas Indonesia Julian Aldrin Pasha menilai kompetisi tersebut memberikan ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengembangkan gagasan sekaligus memahami proses perumusan kebijakan.
"Yang kita saksikan di sini adalah satu penampilan yang luar biasa, saya kira, dari gabungan bagaimana ide itu bisa dipresentasikan di dalam satu presentasi yang utuh yang melibatkan semua. Kompetisi ini kan melibatkan beberapa komponen dan itu memang sangat baik untuk memperlihatkan bagaimana public concerns coba diangkat dan coba untuk dijelaskan dan dicarikan solusinya dalam bentuk policy brief," ujar Julian seperti dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 6 September 2026.
Sementara Direktur Yayasan Bakti Barito Dian A. Purbasari mengatakan pendekatan kompetisi mendorong mahasiswa menyusun solusi berdasarkan analisis terhadap persoalan yang dihadapi.
"Kompetisi ini sejalan dengan komitmen Yayasan Bakti Barito dalam mendorong aksi iklim melalui edukasi. Pendekatan analitis para mahasiswa dalam merumuskan rekomendasi kebijakan yang konkret membuktikan bahwa generasi muda kita bukan sekadar pengamat, melainkan inovator yang siap memberikan kontribusi nyata bagi masa depan udara bersih di Indonesia," papar Dian.
.jpg)
(Ilustrasi polusi udara. Foto: Antara)
Angkat beragam isu
Berbagai gagasan yang disampaikan finalis menunjukkan cakupan persoalan pencemaran udara yang melibatkan sejumlah sektor. Topik yang diangkat antara lain pembiayaan pengendalian polusi udara, reformasi pajak emisi kendaraan bermotor, integrasi data kualitas udara dan kesehatan, pengendalian emisi industri berbasis data, serta perlindungan kelompok rentan.
Tim Duarr dari Politeknik Keuangan Negara STAN meraih Juara 1 melalui gagasan "Dual Track Decarbonization: Menata Insentif dan Disinsentif Pengendalian Polusi Udara di Jabodetabek".
Tim tersebut mengangkat persoalan pengendalian polusi udara yang dinilai masih bertumpu pada regulasi tanpa dukungan insentif dan mekanisme pembiayaan yang memadai. Mereka mendorong kombinasi insentif dan disinsentif fiskal untuk memperkuat pengendalian emisi di Jabodetabek.
Sementara itu, Tim APPA dari Institut Teknologi Bandung meraih Juara 2 melalui rekomendasi "Pengendalian Emisi Industri Berbasis Data dan Penataan Ruang di Cekungan Bandung".
Gagasan tersebut mengangkat persoalan penumpukan polutan di Cekungan Bandung, salah satunya akibat emisi industri yang terperangkap oleh kondisi topografi wilayah tersebut.
Adapun penghargaan Best Presenter diberikan kepada tim Sangkan Paraning Dumadi Hamemayu Hayuning Bawana Manunggaling Kawula Gusti dari Universitas Gadjah Mada. Penghargaan diberikan atas kemampuan tim dalam menyampaikan dan mempertahankan gagasan kebijakan secara jelas, logis, dan meyakinkan di hadapan dewan juri.
Salah satu anggota Tim Duarr dari Politeknik Keuangan Negara STAN Silvia Rahmawati mengatakan kompetisi tersebut menjadi pengalaman bagi timnya untuk menguji sekaligus mempertajam gagasan yang disusun.
"Proses kompetisi ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk menguji dan mempertajam gagasan tersebut. Kami berharap ide ini bisa menjadi kontribusi untuk membangun ekosistem kebijakan yang lebih efektif dan berdampak," ujar Silvia.