Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari.
Kemendag Perluas Pasar Ekspor Nontradisional di Tengah Gejolak Geopolitik
Andika Fauzan Azhari • 2 September 2026 13:32
Jakarta: Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperluas pasar ekspor nontradisional untuk mengantisipasi gejolak geopolitik global. Strategi ini disiapkan agar ekspor nasional tetap tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Dinamika geopolitik, seperti konflik di Selat Hormuz hingga gangguan pasokan di wilayah Timur Tengah, dinilai memengaruhi pergeseran rantai pasok global dan pangsa pasar Indonesia di kawasan tersebut. Saat ini, porsi pangsa pasar ekspor Indonesia ke Timur Tengah tercatat sebesar 3,96 persen.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan bahwa perubahan kondisi pasar global akibat krisis menuntut Indonesia untuk bergerak cepat memanfaatkan peluang dan mencari pembeli (buyer) baru.
"Pasar itu berkembang cepat karena krisis yang terjadi. Perubahan-perubahan transisi ini terus berjalan. Yang kita kejar adalah bagaimana dengan perubahan ini ekspor kita harus terus meningkat meskipun kita harus terus mencari buyer," kata Budi Susanto dalam Acara Peluncuran Trade Corporate University di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu, 2 September 2026.
Budi menambahkan, penyesuaian strategi ini dilakukan agar ketergantungan pada wilayah pasar tertentu dapat ditekan melalui diversifikasi tujuan ekspor.

(Perjanjian kerja sama terkait pengembangan SDM negosiator dan pelaku usaha adaptif. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari)
Dinamika geopolitik, seperti konflik di Selat Hormuz hingga gangguan pasokan di wilayah Timur Tengah, dinilai memengaruhi pergeseran rantai pasok global dan pangsa pasar Indonesia di kawasan tersebut. Saat ini, porsi pangsa pasar ekspor Indonesia ke Timur Tengah tercatat sebesar 3,96 persen.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan bahwa perubahan kondisi pasar global akibat krisis menuntut Indonesia untuk bergerak cepat memanfaatkan peluang dan mencari pembeli (buyer) baru.
"Pasar itu berkembang cepat karena krisis yang terjadi. Perubahan-perubahan transisi ini terus berjalan. Yang kita kejar adalah bagaimana dengan perubahan ini ekspor kita harus terus meningkat meskipun kita harus terus mencari buyer," kata Budi Susanto dalam Acara Peluncuran Trade Corporate University di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu, 2 September 2026.
Budi menambahkan, penyesuaian strategi ini dilakukan agar ketergantungan pada wilayah pasar tertentu dapat ditekan melalui diversifikasi tujuan ekspor.

(Perjanjian kerja sama terkait pengembangan SDM negosiator dan pelaku usaha adaptif. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari)
Percepat perjanjian dagang internasional
Selain membuka pasar baru, Kemendag juga mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan (trade agreement). Perjanjian dagang ini dinilai sebagai sarana paling efektif dalam membuka hambatan tarif maupun nontarif di negara tujuan.
Optimalisasi peran perwakilan perdagangan di luar negeri, seperti Atase Perdagangan (Atdag) dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara, juga terus ditingkatkan.
Langkah ini disinergikan dengan pengembangan SDM melalui program Trade Corporate University untuk mencetak negosiator dan pelaku usaha yang adaptif.
"Bagaimana kita mempercepat perjanjian dagang. Karena itu akses pasar yang paling mudah dan kita juga tidak mudah untuk bisa menyelesaikan perjanjian dagang itu. Perwakilan kita di luar negeri juga kita minta aktif mencarikan buyer untuk para eksportir," jelas Budi.