Menabung Saja Tak Cukup, Ini Alasan Investasi Makin Penting

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Menabung Saja Tak Cukup, Ini Alasan Investasi Makin Penting

Andika Fauzan Azhari • 6 November 2026 14:26

Jakarta: Konsultan sekaligus edukator keuangan Aliyah Natasya menilai investasi dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga nilai kekayaan masyarakat di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan inflasi.

Menurut dia, masyarakat perlu mulai mengelola uang dengan memiliki aset yang berpotensi menghasilkan keuntungan. Dengan begitu, nilai kekayaan dapat lebih terjaga dalam menghadapi kenaikan biaya hidup.

"Inilah alasan kenapa kita perlu berinvestasi, membuat uang kita punya aset yang bekerja. Bukan untuk menakut-nakuti, karena inflasi dan kenaikan harga itu pasti. Tapi ternyata investasi di jalan yang benar dan tepat juga bisa membantu kita memperbaiki taraf hidup kita," ujar Aliyah dalam talkshow Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026, Jumat, 6 November 2026.

Ia menjelaskan, kenaikan harga dapat dilihat dari perbandingan harga emas Antam 1 gram pada 1996 yang saat itu sekitar Rp26 ribu. Kini, harga emas tersebut telah mencapai jutaan rupiah per gram.

Selain emas, harga bahan bakar, tanah, dolar AS, hingga berbagai kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan. Oleh karena itu, menurut Aliyah, kepemilikan aset produktif melalui investasi menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan agar nilai kekayaan masyarakat tidak tergerus inflasi.


 

 

Pembaruan pola perencanaan keuangan


Aliyah menambahkan, sejumlah pandangan dalam perencanaan keuangan yang berkembang pada masa lalu perlu disesuaikan dengan kondisi saat ini. Salah satunya terkait urutan menabung dan berinvestasi, seiring semakin mudahnya akses masyarakat terhadap instrumen investasi melalui teknologi digital.

"Kalau zaman dulu benar tuh dibilang, nabung saja dulu, investasi belakangan. Tapi alasannya, dulu kan saya kerja di bank, 2010, untuk buka satu akun reksa dana itu minimal Rp10 juta loh," tambah dia.

Menurut Aliyah, perkembangan layanan keuangan digital membuat masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan untuk memulai investasi dengan nominal yang lebih terjangkau.

Kemudahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan berinvestasi secara bertahap, dengan tetap memperhatikan kebutuhan keuangan dan risiko masing-masing instrumen.

(Ade Hapsari Lestarini)