Ilustrasi. Medcom.id
Mahasiswa Indonesia di Australia Diajak Jadi Generasi Berdampak bagi Bangsa
Arga Sumantri • 11 October 2026 21:48
Perth: Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak mahasiswa dan profesional muda Indonesia di Australia untuk terus belajar, beradaptasi menghadapi perubahan zaman, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan dalam keynote speech secara daring pada INFOKAN 2026 bertema Passing Wisdom, Inspiring Tomorrow, yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Western Australia (PPIA WA) dan PPIA Curtin.
Ia menekankan pendidikan tinggi bukan semata-mata tentang memperoleh gelar. Melainkan, membangun pola pikir kritis, kemampuan bekerja sama, ketangguhan menghadapi tekanan, dan kesiapan untuk terus berkembang.
"Universitas bukan hanya tempat untuk mendapatkan jawaban yang benar. Universitas juga mengajarkan kita bagaimana berpikir, bekerja bersama orang lain, menghadapi tekanan, dan terus melangkah ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana," ujar Ibas dalam keterangan tertulis, Minggu, 11 Oktober 2026.
Pendidikan Tidak Berhenti saat Wisuda
Ia mengingatkan perjalanan setelah kelulusan justru membuka babak baru yang penuh tantangan, kesempatan, dan tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan waktu keberhasilan masing-masing. Mahasiswa tidak perlu mengukur nilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.Menurutnya, generasi muda perlu berfokus pada pengembangan keterampilan, pembentukan karakter, keberanian belajar dari kesalahan, serta konsistensi untuk terus bergerak maju dengan tujuan yang jelas.
"Life is an eternal university. Hidup adalah universitas yang abadi," pesan Ibas.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan belajar di luar negeri untuk memperluas wawasan dan membangun persahabatan lintas budaya. Selain itu, memperkuat jaringan profesional yang dapat menjadi jembatan kolaborasi antara Indonesia dan Australia.
Menghadapi Era AI, Karakter dan Nalar Kritis Tetap Menjadi Kunci
Ibas menyoroti perubahan besar yang terjadi dalam dunia ekonomi dan bisnis akibat perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, teknologi telah mengubah cara masyarakat bertransaksi, menjalankan usaha, mengakses informasi, dan menciptakan nilai ekonomi.Perubahan tersebut membuka peluang besar, tetapi sekaligus menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kompetensi dan memahami tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Ia menekankan bahwa kemampuan menghasilkan informasi dengan cepat tidak lagi cukup untuk menjamin seseorang memiliki nilai tambah di dunia kerja.
“Yang membuat kita bernilai bukan sekadar kemampuan menghasilkan lebih banyak informasi. Yang penting adalah kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat, memverifikasi kebenaran, memahami orang lain, menggunakan pertimbangan yang baik, dan mengubah informasi menjadi tindakan yang bermakna," tegasnya.
Ia juga mengingatkan perkembangan AI perlu diimbangi perhatian terhadap masa depan pekerjaan, perlindungan privasi, etika, dan pemerataan akses terhadap peluang. Mahasiswa didorong tidak hanya mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan yang tersedia saat ini, tetapi mengembangkan kemampuan belajar dan beradaptasi untuk menghadapi profesi serta tantangan yang akan muncul di masa depan.

Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat memberikan keynote speech secara daring pada INFOKAN 2026. Istimewa.
Memperkuat Jaringan Alumni Indonesia–Australia
Ia mendorong penguatan jaringan alumni Perth dan komunitas alumni Indonesia–Australia agar hubungan yang terbangun selama masa studi dapat berlanjut menjadi kolaborasi yang memberikan manfaat nyata. Ia mengajak para alumni untuk terus berbagi peluang, bertukar pengetahuan, membimbing generasi berikutnya, dan membangun kerja sama yang mendukung kemajuan kedua negara.Ia juga mengapresiasi PPIA WA dan PPIA Curtin atas penyelenggaraan INFOKAN 2026 yang mempertemukan mahasiswa dan profesional muda untuk berbagi pengalaman serta memperluas jejaring.
Menurutnya, pengalaman belajar di luar negeri seharusnya tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi. Pengetahuan, persahabatan, dan jaringan yang diperoleh dapat menjadi modal untuk menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ia mendorong generasi muda terus memiliki cita-cita besar, bekerja keras, tidak mudah menyerah, terbuka terhadap dunia, dan tidak melupakan akar kebangsaannya.
"Bersatu, berpikir, bergerak, berdampak. Masa depan bukan sekadar sesuatu yang kita tunggu. Masa depan adalah sesuatu yang ikut kita ciptakan," tuturnya.