Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet
Podium MI: Statistik Haji
Abdul Kohar • 9 June 2026 06:17
HAJI memang perjalanan spiritual penting. Ia merupakan puncak peribadatan dan penghambaan seorang muslim kepada Tuhan. Karena itu, membahas haji sekadar dari sisi statistik bisa jadi terlalu dangkal. Ia bisa sekadar bicara kulit, bukan daging.
Namun, sama sekali mengabaikan statistik ibadah haji juga bisa dibilang sembrono. Sikap seperti itu berpotensi menegasikan layanan prima terhadap jemaah haji. Bagi pelayanan haji, statistik itu penting. Ia bisa menjadi alat untuk mengevaluasi sudah sejauh mana pelaksanaan layanan ibadah haji berjalan maksimal.
Karena itu, terdorong oleh keinginan yang luhur untuk melihat sejauh mana tren peningkatan layanan haji oleh Arab Saudi terjadi, mari bicara statistik haji, khususnya penyelenggaraan ibadah haji 1447 H atau 2026. Tahun ini, ibadah kembali mencatat angka fantastis.
Baca Juga :
Podium MI: Batas Sabar
Berdasarkan data statistik resmi yang dirilis otoritas Saudi, total jemaah haji tahun ini mencapai 1,7 juta orang (persisnya 1.707.301 orang). Mereka berasal dari 165 negara di berbagai belahan dunia.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,54 juta merupakan jemaah internasional (dengan Indonesia sebagai negara pengirim jemaah haji terbesar, yakni 221 ribu orang), sedangkan 160 ribu lainnya ialah jemaah domestik yang terdiri dari warga negara dan penduduk Arab Saudi. Jemaah laki-laki masih mendominasi dengan jumlah 893,3 ribu, sedangkan jemaah perempuan mencapai 813,9 ribu orang.
Penyelenggaraan haji tahun ini juga mencerminkan tingginya skala pelayanan yang disiapkan pemerintah Arab Saudi. Tercatat sebanyak 441 ribu petugas dan pekerja dikerahkan untuk mendukung operasional haji, dibantu 26,7 ribu relawan.
Statistik itu sekaligus menegaskan bahwa haji 2026 menjadi salah satu penyelenggaraan ibadah terbesar di dunia, dengan dukungan sistem layanan, transportasi, dan sumber daya manusia dalam skala masif demi menjamin kenyamanan dan keamanan para tamu Allah.
Wajar jika Arab Saudi terus memperbaiki tata kelola haji. Haji merupakan sumber pendapatan terbesar kedua Arab Saudi setelah minyak. Diperkirakan, sekitar US$15 miliar per tahun devisa Arab Saudi disumbang dari haji.
Media Arab berbasis di London, Inggris, Al Majalla, menuliskan rata-rata pengeluaran per jemaah hampir mencapai US$9.000 (sekitar Rp172 juta). Pendapatan gabungan antara haji dan umrah mencapai sekitar US$40 miliar (sekitar Rp720 triliun), atau setara dengan 4%-7% dari produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.
Negeri yang dipimpin Raja Salman dan dikendalikan Pangeran Muhammed bin Salman (MBS) itu pun mencanangkan Visi Saudi 2030. Program itu bertujuan mengantisipasi peningkatan momentum di sektor haji dan umrah dalam beberapa tahun mendatang. Visi itu merancang perluasan infrastruktur dan layanan serta upaya untuk meningkatkan jumlah pengunjung.
Pendapatan dari musim umrah merupakan sumber pendapatan nonminyak yang penting bagi Arab Saudi. Jemaah umrah mengeluarkan sejumlah besar uang untuk tiket perjalanan, akomodasi, layanan keagamaan, dan belanja.
Hal itu mendukung sektor perhotelan, ritel, dan transportasi sesuai dengan tujuan Visi Saudi 2030, yang berupaya memperluas kontribusi ekonomi pariwisata religi. Pusat Konsultasi Ekonomi dan Administrasi Al-Sajini mencatat 40% pengeluaran jemaah diperuntukkan akomodasi, 31% untuk transportasi, 14% untuk oleh-oleh, 10% untuk makanan, dan 5% untuk pengeluaran lainnya.
Arab Saudi meningkatkan efisiensi layanan yang diberikan di Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Layanan itu meliputi pembersihan, pemeliharaan, pekerjaan perbaikan, dan proyek perluasan yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan menampung jutaan jemaah.
Oktober tahun lalu, MBS yang juga Putra Mahkota Saudi meluncurkan proyek pembangunan di sebelah Masjidil Haram di Mekah yang akan menambah sekitar 900 ribu tempat salat di dalam dan luar ruangan. Proyek yang mencakup 12 juta meter persegi dan diberi nama Gerbang Raja Salman itu bertujuan meningkatkan akses ke Masjidil Haram.
Modernisasi dan pembangunan tetap menjadi elemen berkelanjutan dalam rencana tahunan Arab Saudi. Sekitar US$100 miliar telah dihabiskan dalam beberapa tahun terakhir untuk meningkatkan infrastruktur, memperluas kapasitas, dan mengembangkan daerah sekitarnya.
Sektor perhotelan telah menjadi magnet bagi investasi yang terkait dengan penyambutan jemaah haji. Perkiraan dari agen properti Knight Frank menunjukkan sekitar 252 ribu kamar hotel saat ini direncanakan, diumumkan, atau sedang dibangun di Mekah dan Madinah saja, dengan penyelesaian yang diharapkan pada 2030. Hampir dua per tiganya ialah hotel bintang empat atau lima.

Ilustrasi ibadah haji. Foto: pexels.
Kementerian Pariwisata kini memiliki tanggung jawab penuh untuk mengawasi akomodasi jemaah haji di Mekah. Mereka telah meluncurkan layanan perizinan untuk penginapan sementara yang dialokasikan bagi jemaah haji, menambahkan lebih dari 566 ribu tempat tidur dalam kerangka kerja yang teratur untuk meningkatkan kualitas layanan yang ditawarkan kepada jemaah haji dan mendiversifikasi pilihan akomodasi mereka.
Arab Saudi telah berkomitmen untuk memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk mempermudah ibadah haji dan umrah bagi para pengunjung dan untuk mengurangi beban perjalanan mereka. Di bawah kendali Pangeran MBS, Arab Saudi mulai bangun dari buaian minyak bumi yang memanjakan. Arah transformasi itu menuju wisata religi, yakni umrah dan haji.
Apakah itu berarti haji dan umrah telah bergeser menjadi komodifikasi dan kehilangan rohnya? Saya tidak mau menilai.