Ilustrasi. Dok Freepik
Literasi Jadi Kunci Pahami Konteks Informasi di Ruang Digital
Whisnu Mardiansyah • 1 June 2026 16:49
Jakarta: Tingginya kepekaan warganet terhadap isu-isu yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial telah melahirkan beragam diskusi di ruang digital. Mulai dari tanggapan masyarakat terhadap isu politik, ekonomi hingga cara publik menafsirkan berbagai dinamika yang tengah berlangsung.
Pengamat Komunikasi Digital dari Laju Institute, Mandra Pradipta yang akrab disapa Dipta, menilai bahwa besarnya perhatian publik terhadap isu-isu yang berkembang menunjukkan bahwa ruang digital kini memegang peran yang semakin krusial dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap berbagai persoalan strategis.
Menurut Dipta, media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat penyebaran informasi, tetapi juga telah menjelma menjadi wadah bagi masyarakat untuk membangun pemahaman, saling bertukar gagasan, serta membentuk opini terhadap suatu kejadian.
"Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, masyarakat semakin cepat mendapatkan informasi, tetapi belum tentu memiliki waktu yang cukup untuk memahami konteksnya. Oleh sebab itu, kualitas komunikasi publik menjadi sama pentingnya dengan informasi itu sendiri," kata Dipta dalam keterangan tertulisnya, Senin, 1 Juni 2026.
Dipta menjelaskan bahwa tingginya perhatian publik terhadap isu-isu nasional di media sosial mencerminkan meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam berbagai hal yang berdampak langsung pada kehidupan keseharian mereka.
Menurutnya, dalam ekosistem digital, sebuah informasi dapat menyebar dengan sangat cepat dan memicu beragam tafsir. Karena itu, masyarakat membutuhkan informasi yang lengkap dan mudah dicerna agar dapat membangun pemahaman yang proporsional terhadap suatu isu.
"Di media sosial, perhatian publik sering kali terpusat pada satu angka atau satu peristiwa tertentu. Padahal yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memahami konteks di balik informasi tersebut. Di sinilah literasi digital dan literasi informasi memegang peranan yang sangat penting," ujar Dipta.
Dipta menilai fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital telah berkembang menjadi arena penting dalam pembentukan persepsi publik. Narasi yang tumbuh di media sosial dapat memengaruhi cara masyarakat memandang suatu isu, termasuk dalam menumbuhkan optimisme, sikap hati-hati, maupun harapan terhadap berbagai perkembangan yang sedang terjadi.

Pengamat Komunikasi Digital Laju Institute, Mandra Pradipta. Istimewa
Karena itu, Dipta berpendapat bahwa seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, media massa, akademisi, hingga komunitas digital, memiliki peran yang sama pentingnya dalam menghadirkan komunikasi publik yang informatif, mudah dipahami, serta berlandaskan fakta.
"Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa cepat informasi menyebar, tetapi juga seberapa baik publik memahami makna di balik informasi tersebut. Di era digital, tantangan terbesar bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan bagaimana membangun pemahaman yang sehat di tengah derasnya arus informasi," jelasnya.
Lebih lanjut, Dipta menilai bahwa meningkatnya perhatian masyarakat terhadap berbagai isu strategis merupakan perkembangan positif bagi kehidupan demokrasi digital. Menurutnya, ruang digital harus terus didorong untuk menjadi tempat diskusi yang sehat, konstruktif, serta mampu melahirkan pemahaman publik yang lebih baik.
"Ruang digital yang sehat bukan hanya ruang yang ramai oleh percakapan, tetapi juga ruang yang mampu mendorong lahirnya pemahaman yang berkualitas. Semakin baik literasi informasi masyarakat, semakin kuat pula kemampuan publik dalam menyikapi berbagai isu secara kritis dan bertanggung jawab," kata Dipta.