Ilustrasi guru. Foto: Pexels.
SE Mendikdasmen 7/2026 Dinilai Sebagai Proses Pengalihan Guru Honorer Jadi PPPK
Despian Nurhidayat • 15 May 2026 10:19
Jakarta: Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, meminta pemerintah memastikan proses penataan guru non-ASN dilakukan secara bertahap, terukur, dan tetap mengutamakan keberlangsungan layanan pendidikan di sekolah negeri. Hal itu disampaikan Hetifah menyoal Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026.
Menurut Hetifah, kebijakan tersebut merupakan bagian dari penataan tenaga pendidik sesuai amanat Undang-Undang ASN. Sekaligus penghapusan istilah guru honorer mulai 2027 melalui skema pengalihan menuju Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Kebijakan tersebut menjadi bagian dari penataan tenaga pendidik sesuai amanat Undang-Undang ASN, sekaligus penghapusan istilah ‘guru honorer’ mulai tahun 2027 dengan skema pengalihan menuju PPPK,” kata Hetifah dikutip dari Media Indonesia, Jumat, 15 Mei 2026.
Lebih lanjut, Hetifah menilai langkah pemerintah dalam menyederhanakan sistem kepegawaian guru patut diapresiasi. Sebab, bertujuan menciptakan kepastian status dan tata kelola tenaga pendidik yang lebih baik.
Saat ini, terdapat sekitar 1,6 juta guru non-ASN yang selama bertahun-tahun menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan nasional. Terutama di daerah terpencil, wilayah 3T, dan sekolah yang masih mengalami kekurangan guru ASN.
Oleh karena itu, ia mengingatkan tanpa langkah antisipatif berupa rekrutmen ASN dan PPPK secara besar-besaran, banyak sekolah berpotensi mengalami kekurangan tenaga pendidik.
“Banyak sekolah sampai hari ini masih bergantung pada guru non-ASN. Kalau transisi ini tidak disiapkan dengan baik, kita khawatir operasional sekolah dapat terganggu dan pada akhirnya siswa yang akan paling terdampak,” ujar Hetifah.
Hetifah menilai persoalan distribusi guru masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah. Ia meminta pemerintah pusat dan daerah segera melakukan pemetaan kebutuhan guru secara lebih akurat dan berbasis kondisi riil masing-masing wilayah.

Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian. Foto: Istimewa.
“Kita tidak bisa melihat persoalan pendidikan secara seragam. Ada daerah yang relatif cukup guru, tetapi banyak juga wilayah yang sangat bergantung pada tenaga non-ASN untuk menjaga proses belajar mengajar tetap berjalan,” sebut Hetifah.
Selain mendorong percepatan rekrutmen ASN, Hetifah menyambut baik opsi PPPK Paruh Waktu yang disiapkan pemerintah sebagai skema transisi sementara. Menurut dia, langkah tersebut dapat menjadi solusi agar sekolah tidak mengalami kekosongan guru selama proses penataan berlangsung.
“Skema PPPK Paruh Waktu dapat menjadi solusi sementara untuk menjaga keberlangsungan pembelajaran, khususnya di daerah yang masih kekurangan tenaga pendidik,” ungkap Hetifah.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah tetap harus memiliki roadmap yang jelas menuju pengangkatan ASN penuh waktu disertai jaminan kesejahteraan, kepastian status, dan perlindungan kerja bagi guru.
“Jangan sampai hanya berubah nomenklatur tanpa menyelesaikan persoalan mendasar yang selama ini dihadapi para guru. Negara harus memberikan kepastian kepada mereka yang sudah lama mengabdi di dunia pendidikan,” imbuhnya.
Hetifah menegaskan Komisi X DPR RI akan terus mengawal proses penataan tenaga pendidik agar tetap berpihak pada kualitas pendidikan nasional dan perlindungan terhadap guru.
“Pendidikan adalah layanan dasar yang tidak boleh terganggu akibat proses transisi kebijakan. Guru harus terlindungi, dan siswa harus tetap mendapatkan layanan pendidikan yang optimal,” tegasnya.