Sejumlah warga Pati antre untuk mendapatkan air bersih. (Metro TV/ Udin Ali Nani)
56 Desa di Pati Dilanda Kekeringan, Warga Andalkan Bantuan Air Bersih
Udin Ali Nani • 25 September 2026 07:18
Pati: Warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menghadapi kekeringan selama tiga bulan. Kondisinya kini semakin parah dan meluas. Sebanyak 56 desa di 11 kecamatan terdampak.
Di Desa Maitan, Kecamatan Tambakromo, warga bahkan harus keluar desa untuk mendapatkan air bersih. Sumur mengering, sementara sungai tak lagi bisa diandalkan.
"Kekeringan sudah tiga bulan. Enggak ada bantuan sejak tiga hari lalu," kata Partini, warga Desa Maitan, dikutip Jumat, 25 September 2026.
Saat bantuan air bersih tiba, warga langsung berdatangan dengan membawa galon dan jeriken. Mereka rela mengantre untuk mendapatkan air yang kemudian digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, bantuan tidak datang setiap hari. Ketika pasokan air tak kunjung tiba, warga terpaksa membeli air dengan harga yang cukup mahal.
Untuk seribu liter air, warga harus mengeluarkan biaya hingga Rp80 ribu. Jumlah itu pun harus dihemat agar cukup memenuhi kebutuhan keluarga selama sekitar satu pekan.
"Kalau tak ada bantuan, ya beli. Seribu liter Rp80 ribu buat seminggu. Ya harus irit," ujar Partini.
Kekeringan tak hanya menyulitkan warga memenuhi kebutuhan air bersih, tetapi juga mulai berdampak pada sektor pertanian. Sejumlah lahan pertanian di Pati mengering. Sebagian bahkan mengalami gagal panen atau puso.

Sejumlah warga Pati antre untuk mendapatkan air bersih. (Metro TV/ Udin Ali Nani)
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati mencatat, kekeringan telah melanda sedikitnya 56 desa di 11 kecamatan. Luas lahan pertanian yang terdampak mencapai lebih dari 1.400 hektare, dengan sekitar 400 hektare di antaranya dilaporkan mengalami puso.
"Untuk kekeringan semakin parah dan meluas. Ada 10 kecamatan lebih yang dilanda kekeringan. Untuk areal pertanian 1.400 hektare lebih dan 400 hektare yang sudah mengalami puso," ungkap Kepala BPBD Pati Marthinus Budi Prasetya.
Tiga wilayah tercatat menjadi daerah yang paling parah terdampak, yakni Kecamatan Jakenan, Jaken, dan Pucakwangi.
BPBD Pati terus mendistribusikan bantuan air bersih ke desa-desa terdampak. Namun, bantuan tersebut masih menjadi andalan selama sumur dan sumber air belum kembali terisi.