Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin
Rupiah Dibuka ke Rp16.871 per USD Senin Pagi
Eko Nordiansyah • 9 February 2026 09:20
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan tipis. Rupiah mencoba menguat di tengah penguatan atas dolar AS yang didukung ketidakpastian global.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 9 Februari 2026, rupiah berada di level Rp16.871 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat lima poin atau setara 0,03 persen dari Rp16.876 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.882 per USD. Mata uang Garuda melemah dibandingkan Rp16.860 pada penutupan perdagangan pekan sebelumnya.
Rupiah diprediksi melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif cenderung melemah. Ia menyebut, mata uang Garuda akan bergerak di rentang Rp16.750 hingga Rp17.200 per dolar AS didorong oleh ketidakpastian global.Ibrahim menjelaskan ketidakpastian global disebabkan oleh arah kebijakan bank sentral utama hingga dinamika geopolitik internasional. Salah satu faktor utama yang memicu volatilitas adalah ditundanya rilis data tenaga kerja Amerika Serikat hingga 11 Februari 2026.
Data tersebut dinilai krusial untuk membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Di sisi lain, Bank of England dan Bank Sentral Eropa juga masih memilih menahan suku bunga, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah sedikit mereda setelah adanya pertemuan antara delegasi AS dan Iran. Sementara di Eropa, Presiden AS Donald Trump mendesak tercapainya perdamaian antara Rusia dan Ukraina pada periode Mei–Juni mendatang.
“Namun, sentimen pasar kembali terganggu oleh tudingan Amerika Serikat terhadap Tiongkok yang disebut melakukan uji coba nuklir secara diam-diam, meskipun tuduhan tersebut telah dibantah,” kata dia.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga diperparah oleh isu pembekuan indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan penurunan peringkat Indonesia dari sejumlah lembaga internasional yang memicu keluarnya dana asing.
“Padahal kondisi tersebut terjadi meskipun ekonomi Indonesia pada 2025 mampu tumbuh sebesar 5,11 persen. Pertumbuhan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menopang stabilitas pasar keuangan,” ungkap Ibrahim.
(1).jpeg)