Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Hillary Brigitta Lasut. Dok. Istimewa
Kebijakan BGN Tak Batasi Usia Relawan Dinilai Bentuk Kesetaraan Peluang Kerja
Achmad Zulfikar Fazli • 8 May 2026 18:47
Jakarta: Kebijakan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, yang memberikan fleksibilitas usia relawan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai positif. Hal tersebut menjadi langkah progresif yang mengadopsi standar global.
Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Hillary Brigitta Lasut, mengapresiasi respons cepat Kepala BGN membatalkan batas usia 50 tahun untuk relawan dapur MBG. Kebijakan ini akan memberikan dampak positif yang luas, dari sisi penguatan gizi nasional maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.
"Di luar negeri, dunia profesional dan aktivitas sosial tidak lagi mempermasalahkan angka di kartu identitas. Yang menjadi tolak ukur utama adalah kesehatan fisik, kompetensi, dan semangat kerja. Dengan kebijakan ini, saya yakin Indonesia akan jauh lebih maju karena kita mulai membuka peluang kerja yang inklusif tanpa diskriminasi usia," ujar Hillary dalam keterangannya, Jumat, 8 Mei 2026.
Dia menekankan program MBG bukan sekadar program kesehatan, melainkan instrumen vital bagi ketahanan ekonomi keluarga, terutama di wilayah pedesaan. Dia menyoroti bagaimana pendapatan dari sektor relawan memiliki efek domino yang besar terhadap daya beli masyarakat.
"Hampir saja banyak relawan kita terdampak secara ekonomi jika pembatasan usia diberlakukan secara kaku. Faktanya, banyak warga di desa-desa yang sangat bergantung pada pendapatan sebagai relawan. Meskipun bagi sebagian orang angka tersebut tergolong kecil, ternyata pendapatan itu mampu memberikan peningkatan signifikan terhadap daya beli keluarga mereka di daerah," ujar dia.
.jpeg)
Ilustrasi SPPG Makan Bergizi Gratis. Dok. MTVN
Baca Juga:
Program MBG Disebut Bisa Ciptakan Ekosistem Ekonomi Desa Berkelanjutan |
Hillary berharap kebijakan inklusif ini menjadi standar baru bagi program-program nasional lainnya. Dengan semangat gotong royong yang tidak terbatas usia, dia optimistis target penguatan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi dapat tercapai lebih cepat dan tepat sasaran.
"Saya sangat mengapresiasi langkah Kepala BGN yang menegaskan bahwa tidak ada batas usia maksimum untuk relawan Makan Bergizi Gratis. Ini adalah kebijakan yang sangat manusiawi dan visioner. Di negara-negara maju, kemampuan seseorang tidak dinilai dari usianya, melainkan dari produktivitas dan kesehatannya,” ujar dia.
Dia mengatakan di desa-desa, posisi relawan adalah sandaran ekonomi. Jika ada pembatasan usia, akan berisiko memutus rantai pendapatan keluarga yang selama ini terbukti mampu meningkatkan daya beli mereka secara signifikan.
“Dengan membuka ruang bagi siapa pun yang sehat dan bersemangat, kita tidak hanya memperbaiki gizi anak bangsa, tapi juga menghidupkan ekonomi rakyat tanpa ada yang merasa ditinggalkan,” ujar Hillary.