Trump Klaim Presiden Iran Minta Gencatan Senjata, Teheran Membantah Keras

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu

Trump Klaim Presiden Iran Minta Gencatan Senjata, Teheran Membantah Keras

Fajar Nugraha • 2 April 2026 06:42

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Rabu 1 April 2026 bahwa presiden Iran telah meminta gencatan senjata tetapi bersikeras bahwa Iran harus terlebih dahulu membuka kembali Selat Hormuz.

Klaim tersebut diutarakan Trump menjelang pidato nasional yang diperkirakan akan membahas keadaan perang.

Teheran membantah bahwa Presiden Masoud Pezeshkian telah meminta gencatan senjata dengan Washington, dan mengumumkan pada Rabu malam serangkaian serangan rudal dan drone lainnya yang menargetkan Israel dan pangkalan AS di Teluk.

“Amerika Serikat akan mempertimbangkan gencatan senjata ketika Selat Hormuz terbuka, bebas, dan bersih. Sampai saat itu, kita akan menghancurkan Iran hingga musnah atau, seperti yang mereka katakan, kembali ke zaman batu!" tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis 2 April 2026.

Unggahan tersebut muncul menjelang pidatonya yang disiarkan televisi pukul 21.00 Kamis waktu setempat, pidato pertamanya sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari memicu perang dan krisis energi global.

Teheran mengatakan, “tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung untuk mengakhiri perang,” dan wartawan AFP melaporkan ledakan besar di ibu kota Iran pada hari Rabu.

Nada bicara Trump telah berubah-ubah antara agresif dan damai sejak perang dimulai. Pada hari Selasa, ia mengatakan konflik yang berlangsung selama sebulan itu bisa berakhir dalam "dua minggu, mungkin tiga".

Pezeshkian sebelumnya mengatakan Iran memiliki "kemauan yang diperlukan" untuk gencatan senjata, tetapi hanya jika musuh-musuhnya menjamin permusuhan tidak akan berlanjut.

Menjelang pidato Trump, presiden Iran bertanya kepada rakyat Amerika Serikat apakah konflik tersebut benar-benar mengutamakan "Amerika", menuduh Washington melakukan kejahatan perang dan dipengaruhi oleh Israel.

Garda Revolusi Iran berjanji pada hari Rabu untuk menjaga Selat Hormuz tetap tertutup bagi "musuh-musuh" negara itu.

Seperlima dari minyak global biasanya melewati selat sempit tersebut, dan penutupan efektifnya telah menyebabkan harga energi melonjak.

Garda Nasional juga mengkonfirmasi bahwa mereka mengenai sebuah kapal tanker minyak di Teluk yang menurut mereka milik Israel. Sebuah badan keamanan maritim Inggris mengatakan kapal tersebut dihantam di lepas pantai Qatar, melaporkan kerusakan tetapi tidak ada korban jiwa.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)