Penerapan sistem penampungan limbah elektronik (E-Waste) di SMAN 68 Jakarta. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.
SMAN 68 Jakarta Bentuk Tim Pemilah Kelola Limbah Elektronik
Metro TV • 30 September 2026 18:07
Jakarta: Penerapan sistem penampungan limbah elektronik (E-Waste) di SMAN 68 Jakarta tidak sekadar meletakkan kotak penampungan (drop box) di sudut koridor sekolah. Guna menjaga keamanan, ketertiban, serta memastikan sampah yang masuk sesuai kriteria, sekolah membentuk tim pemilah khusus untuk mengawal operasional fasilitas tersebut.
“Ada tim pemilah sampah dari manajemen sekolah dan siswa yang dilibatkan untuk mengawal program ini. Tim ini bertugas mengawasi agar drop box aman, tidak diotak-atik, dan isinya benar-benar sesuai kriteria sampah yang boleh ditampung,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Humas SMAN 68 Jakarta, Iyan Maulana, di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Langkah kontrol dan pengawasan ini merupakan bagian dari penguatan gerakan E-Waste School Movement hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta.
Iyan menegaskan pengawasan penampungan sampah elektronik di sekolahnya dirancang khusus untuk menerima sampah skala kecil. Hal ini dilakukan guna mencegah masuknya limbah elektronik berukuran besar atau sampah nonelektronik yang tidak sesuai kriteria.
“Itu yang perlu kami tekankan lagi ya, selain memang sampah harus sesuai dengan kriteria, kedua, bagaimana sekolah ini bukan sebagai penampungan seluruh barang elektronik pribadi di rumah, gitu ya,” kata Iyan.
Ia menjelaskan, penyediaan fasilitas tersebut utamanya bertujuan mengedukasi warga sekolah dan menampung sampah elektronik di lingkungan sekolah. Sekaligus menjadi opsi alternatif jika ada barang elektronik kecil yang belum sempat dibuang saat di rumah.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Humas SMAN 68 Jakarta, Iyan Maulana. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.
“Sampah yang bisa masuk itu ukuran kecil ya, sesuai kriterianya, seperti kabel, baterai, dan charger. Sementara untuk sampah elektronik ukuran besar, seperti kulkas atau lemari es tentu tidak masuk kriteria,” tutur Iyan.
Selain menjaga keamanan fisik drop box, tim pemilah yang melibatkan elemen kesiswaan, seperti pengurus OSIS, MPK, hingga perwakilan kelas, juga berfungsi memantau kapasitas penampungan. Jika drop box mulai penuh, pihak sekolah akan segera berkoordinasi dengan DLH DKI Jakarta untuk proses pengangkutan.
(Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan)