Ilustrasi. Foto: Dok MI
BI Tepis Isu Pengurangan Intervensi Demi Menjaga Stabilitas Rupiah
Eko Nordiansyah • 30 September 2026 16:16
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. BI menepis anggapan spekulatif yang menyebut otoritas moneter akan mengurangi intervensi pasar.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia, Erwin Gunawan, meminta pelaku pasar tidak berspekulasi mengenai langkah intervensi BI. Pasalnya, pergerakan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran (supply and demand), tetapi juga oleh persepsi harga serta dinamika sentimen pasar.
"Jangan pernah punya simpulan atau bacaan Bank Indonesia akan mengurangi intervensi spot. Kita tetap komit menjaga stabilitas dengan bauran intervensi kita, baik itu di spot, DNDF, maupun NDF, dengan dinamika pasar yang ada," ujar Kepala DPMA Bank Indonesia, Erwin Gunawan, dalam Taklimat Media di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Erwin menjelaskan, gejolak geopolitik global seperti konflik di Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada peningkatan inflasi global. Kondisi ini memicu penguatan Dolar AS (DXY) dan menekan mata uang berbagai negara, termasuk Rupiah.
Menghadapi tantangan tersebut, BI tidak hanya mengandalkan intervensi di pasar keuangan, tetapi juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna meminimalkan sentimen negatif di tingkat domestik.
Baca Juga :
Rupiah Ditutup Naik 87 Poin ke Rp17.894 per USD

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Perdalam pasar valas domestik
Selain langkah intervensi, BI terus mendorong pendalaman pasar valuta asing (valas) di dalam negeri. Skema perlindungan nilai (hedging) dan pemenuhan kebutuhan valas lewat instrumen non-kas (cash market) terus diperkuat agar pasar keuangan nasional lebih tahan terhadap guncangan eksternal."Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia terus mendorong agar pasar valas kita tetap dalam, agar kebutuhan valas itu tidak hanya dipenuhi dengan cash market, tapi juga lewat lindung nilai, dan diversifikasi pemenuhan kebutuhan tidak hanya US Dollar tetapi juga currency yang lain," tambah Erwin.