Anak Down Syndrome di Surabaya Meninggal Usai Jadi Korban Bully

Konidisi bocah berusia 10 tahun berinisial Z, penyandang down syndrome, sebelum meninggal. (Dok: Keluarga)

Anak Down Syndrome di Surabaya Meninggal Usai Jadi Korban Bully

Amaluddin • 18 October 2026 13:07

Surabaya: Seorang anak berinisial Z (10), penyandang down syndrome asal Kecamatan Rungkut, Surabaya, meninggal dunia pada Sabtu, 12 September 2026. Kematian korban diduga berkaitan dengan tindak kekerasan yang dilakukan dua anak tetangganya.

Ayah korban, SAW (53), telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polrestabes Surabaya. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/1843/IX/2026/SPKT/Polrestabes Surabaya/Polda Jawa Timur tertanggal 12 September 2026.

"Saya lihat anak saya ada jeratan di lehernya, jeratan tali sepatu. Terus mulutnya putih, di bibirnya ada bekas putih," kata SAW, Minggu, 18 Oktober 2026.


Peristiwa itu bermula ketika anaknya bermain sendirian menggunakan kursi roda di teras rumah sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, pagar rumah dalam keadaan tertutup.

SAW mengaku sedang mengalami sakit perut setelah menjalani operasi pengangkatan batu ginjal. Ia meminum obat yang membuatnya tertidur. Sementara itu, istrinya, NF, sedang pergi ke pasar untuk berjualan sari kedelai.

Sekitar pukul 09.00 WIB, NF pulang dan mendapati anaknya tergeletak di teras rumah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Wajah korban disebut sudah membiru.

SAW juga mengaku melihat bekas jeratan pada leher anaknya yang diduga berasal dari tali sepatu. Selain itu, terdapat bekas putih menyerupai sabun pada bagian mulut korban.

"Istri saya teriak-teriak, 'anake wis biru, anake wes biru' (anaknya sudah biru). Langsung saya kaget mendengar teriakan itu. Setelah itu saya keluar rumah, anak saya sudah dipangku istri saya," jelas SAW.

Melihat kondisi anaknya yang tidak sadarkan diri, SAW segera membawanya ke RSUD Eka Candrarini sekitar pukul 09.20 WIB. Namun sekitar pukul 09.45 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit.

"Sekitar pukul 09.45 WIB di Rumah Sakit Eka dinyatakan meninggal dunia," ungkap SAW.

Untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut, SAW meminta rekaman kamera pengawas atau CCTV kepada pengurus RT setempat. Berdasarkan penuturannya, rekaman CCTV di gang memperlihatkan dua anak tetangganya masuk ke rumah korban sekitar pukul 08.15 WIB dan keluar pada pukul 08.32 WIB.

SAW menduga kedua anak tersebut terlibat dalam peristiwa yang menimpa putranya. Namun, dugaan keterlibatan mereka dan rangkaian kejadian yang menyebabkan korban meninggal dunia masih memerlukan pembuktian melalui proses penyidikan.

Setelah mengetahui kematian korban dalam kondisi yang dinilai tidak wajar, pihak rumah sakit meminta keluarga melaporkan kejadian itu kepada polisi. Jenazah korban dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya untuk menjalani autopsi.

Proses autopsi berlangsung hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Korban dimakamkan pada malam harinya. SAW menduga peristiwa yang menimpa anaknya bukan kali pertama terjadi.

Ia mengaku pernah melihat tali tampar sepanjang sekitar dua meter melingkar di leher anaknya sekitar sepekan sebelum kejadian. Sebulan sebelumnya, ia juga mendapati wajah dan tubuh korban dipenuhi pasir.

"Anak saya ini enggak sekali tok (di-bully). Seminggu sebelum kejadian, saya melihat tampar sudah dikalungkan di leher anak saya. Habis itu, sebulan sebelumnya, muka anak saya banyak pasir," tuturnya.


Konidisi bocah berusia 10 tahun berinisial Z, penyandang down syndrome, sebelum meninggal. (Dok: Keluarga)


SAW mengaku terpukul atas kematian putranya. Menurut dia, kondisi anaknya membuat korban memiliki keterbatasan dalam beraktivitas dan berkomunikasi. 

"Anak saya itu enggak bisa ngomong, enggak bisa berdiri, enggak bisa melihat. Banyak penyakitnya, jantung bocor, mata katarak, down syndrome," kata SAW sambil menahan tangis.

Di tengah kesedihan atas kehilangan anaknya, SAW berharap kasus tersebut mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum. Ia juga meminta agar kedua anak yang diduga terlibat mendapatkan pembinaan dari lembaga negara agar memahami batas antara perilaku yang benar dan salah.

Menurut SAW, pembinaan tersebut perlu mencakup pendidikan agama dan moral sebelum mereka kembali ke lingkungan masyarakat. "Saya ingin kedua anak ini dibina oleh negara sampai bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Saya minta dibina sampai dewasa. Setelah dewasa, dia mengerti mana yang hak, mana yang batil, sudah diberi pendidikan agama dan pendidikan moral Pancasila, baru sekiranya dilepas ke masyarakat, monggo," ujarnya.

Sementara itu, Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Surabaya AKBP Melatisari mengatakan perkara tersebut masih dalam proses penyidikan. 

Ia belum membeberkan lebih lanjut mengenai perkembangan penanganan perkara, termasuk ada atau tidaknya penetapan tersangka. Polisi masih perlu mengungkap rangkaian kejadian, serta memastikan penyebab kematian korban berdasarkan hasil penyidikan dan bukti-bukti yang diperoleh. 

"Kita tangani dan masih proses penyidikan," ungkap Melatisari.

(Silvana Febiari)