Tinggi Muka Air Waduk Jatiluhur Turun 7,42 Meter

Kondisi Waduk Jatiluhur wilayah Ubrug yang mulai menyusut akibat kekeringan. MI

Tinggi Muka Air Waduk Jatiluhur Turun 7,42 Meter

Reza Sunarya • 5 August 2026 19:17

Purwakarta: Perum Jasa Tirta II (PJT II) memperkuat pengelolaan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum untuk menghadapi musim kemarau 2026. Langkah ini dilakukan bersama pemangku kepentingan agar pasokan air untuk masyarakat, irigasi, industri, dan pembangkit listrik tetap terjaga.

Direktur Utama PJT II, Imam Santoso, mengatakan pengelolaan air dilakukan secara adaptif. Penurunan muka air Waduk Jatiluhur masih terkendali meski kemarau berlangsung.

"Menghadapi musim kemarau diperlukan pengelolaan sumber daya air yang adaptif dan terintegrasi. Melalui sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, kami berupaya memastikan ketersediaan air di DAS Citarum tetap terjaga sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, irigasi, industri, serta berbagai sektor strategis lainnya," kata Imam, Rabu, 5 Agustus 2026.

Data PJT II menunjukkan tinggi muka air Waduk Jatiluhur turun dari +106,79 mdpl (8 Juni 2026) menjadi +99,37 mdpl (5 Agustus 2026). Dalam 58 hari, permukaan air turun 7,42 meter. Meski turun, volume efektif waduk masih 857,10 juta meter kubik. PJT II yakin air cukup hingga Desember 2026.
 


Untuk menjaga cadangan air, PJT II bersama BMKG, BBWS Citarum, dan PLN melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 30 Juli 2026. Direktur Operasi dan Pemeliharaan PJT II, Anton Mardiyono, mengatakan OMC diharapkan meningkatkan debit air ke Waduk Kaskade Citarum.

"Melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca, kami berharap inflow ke Waduk Kaskade Citarum dapat terus meningkat sehingga volume tampungan air tetap terjaga. Dengan demikian, pola operasi waduk dapat berjalan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, irigasi, industri, sekaligus mendukung ketahanan air, pangan, dan energi nasional selama musim kemarau," kata Anton.


Ilustrasi. Foto: Pexels/Chien Ba


PJT II juga menerapkan sistem gilir-giring. Air dialirkan bergilir berdasarkan Rencana Tata Tanam Global (RTTG) agar irigasi tetap merata saat debit terbatas.

"Musim kemarau menuntut pengelolaan air yang semakin cermat. Melalui penerapan sistem gilir-giring dan pengaturan penyaluran berdasarkan Rencana Tata Tanam Global, kami berupaya memastikan air tetap terdistribusi secara efektif dan adil sehingga kebutuhan pertanian maupun sektor lainnya dapat terus terpenuhi," ujar Anton.

Sebagai mitigasi, PJT II juga memperkuat tanggul, memperbaiki titik bocor, dan membenahi bangunan air agar distribusi air tetap optimal.

(Whisnu M)