Ibu Welas. (Dokumentasi/ Bakom RI)
Sekolah Rakyat Selamatkan Masa Depan Anak Yatim di Tengah Keterbatasan Ekonomi
Silvana Febiari • 12 April 2026 15:51
Surakarta: Di usia yang telah menginjak 74 tahun, Ibu Welas tak lagi mampu berjualan sayur keliling seperti dulu. Namun, satu hal yang masih ia pegang erat adalah harapan: masa depan cucunya, Julio.
Julio tidak memiliki jalan hidup yang mudah. Sejak berusia satu tahun, ia telah kehilangan ayahnya yang meninggal akibat penyakit virus tikus setelah membersihkan selokan. Sejak itu, Julio tumbuh dalam asuhan neneknya di Kampung Kedung Tungkul, Mojosongo, Jebres, Surakarta, di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
“Dulu Julio nakal. Sama temen-temannya sering lempar-lemparan batu atau pisau (tawuran),” tutur Ibu Welas saat ditemui di rumahnya, Minggu, 12 April 2026.
Baca Juga :
Perjalanan pendidikan Julio sempat terhenti. Setelah bersekolah hingga kelas 3 SD, Julio memilih berhenti. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di luar rumah, bergaul bebas, bahkan terlibat dalam perilaku kenakalan.
Kondisi itu membuat sang nenek khawatir. Dengan segala keterbatasan, ia berusaha mencari jalan agar cucunya kembali ke bangku pendidikan. Hingga akhirnya, Julio didaftarkan ke Sekolah Rakyat, sekolah berasrama gratis yang diinisasi Presiden Prabowo Subianto untuk anak keluarga miskin ekstrem.
Perubahan mulai terlihat. Julio yang dulu dikenal sulit diatur, kini menunjukkan sikap yang jauh lebih tenang. Ia kembali menikmati proses belajar, bahkan menunjukkan kedekatan emosional yang lebih hangat dengan neneknya.
“Senang (Julio di Sekolah Rakyat) di bisa mendekap, merangkul, menciumi saya. Katanya, Mak aku seneng, di sini (rumah) sering dimarahi. Di sekolah gak pernah dimarahi,” ujar Welas.

Ibu Welas. (Dokumentasi/ Bakom RI)
Bagi Ibu Welas, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan juga ruang aman bagi cucunya untuk tumbuh dan berkembang. Ketiadaan biaya harian menjadi kelegaan tersendiri. Sebelumnya, Julio sering meminta uang Rp15.000 hingga Rp20.000 setiap hari, yang menjadi beban bagi keluarga.
Kini, harapan itu kembali tumbuh. Ibu Welas hanya berharap Julio bisa menjadi anak yang baik dan menjalani hidup yang layak.
“Pengennya Julio pintar dan jadi orang baik, tidak terlantar. Saya sudah tua, dan sewaktu-waktu dipanggil Yang Maha Kuasa, nitip cucu saya. Baik-baik di sana. Jadi orang yang baik,” harap sang nenek lirih.
Di tengah keterbatasan dan usia yang kian menua, doa itu terus ia panjatkan. “Matur nuwun Pak Prabowo. Putu kulo pun sekolah teng Sekolah Rakyat. Matur sembah nuhun. Kadose pinter, dados tiang sing genah. (Terima kasih Pak Prabowo, cucu saya bisa sekolah di Sekolah Rakyat. Semoga cucu saya jadi orang yang hidupnya baik),” ujar Welas.
Bagi Julio dan sang nenek, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Sekolah ini menjadi titik balik yang menyelamatkan arah hidup sang cucu.