Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi (kedua kiri) dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia. Foto: Tangkapan layar siaran YouTube Metro TV.
OJK Dorong UMKM Naik Kelas hingga Melantai di Pasar Modal
Husen Miftahudin • 3 September 2026 11:04
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama sejumlah kementerian dan lembaga terus mendorong para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar naik kelas hingga mampu melantai di pasar modal.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan berbagai inisiatif telah dilakukan secara bersama-sama dengan Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Kementerian Keuangan, Kementerian UMKM, serta kementerian dan lembaga terkait lainnya.
Friderica mengatakan pemerintah dan otoritas keuangan terus mencari langkah untuk meningkatkan kapasitas UMKM. Salah satu targetnya mendorong pelaku UMKM agar dapat naik kelas dan memiliki akses pembiayaan yang lebih luas, termasuk melalui pasar modal.
"UMKM juga sebenarnya banyak sekali inisiatif yang sudah kita lakukan, kita keroyok bareng dan bersama-sama bagaimana UMKM ini. Bahkan nanti sebentar lagi bersama dengan Menteri Bappenas UMKM ini bisa naik kelas dan go public nantinya," ujar Friderica dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang diselenggarakan Metro TV di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Namun ia juga mengakui, persoalan likuiditas masih menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pengembangan UMKM. Karena itu, dukungan pembiayaan perlu diperkuat dari berbagai sumber.
Pendanaan UMKM tak bisa hanya andalkan bank
Friderica menegaskan pembiayaan UMKM tidak dapat hanya mengandalkan sektor perbankan. Sumber pendanaan alternatif dari sektor keuangan lain perlu terus dikembangkan.
"Kita paham enggak boleh hanya rely dari perbankan saja, tentu dibutuhkan sumber-sumber pendanaan lain, baik itu dari sektor pasar modal, kemudian sektor lain, bagaimana pertumbuhan pembiayaan misalnya dan kemudian berbagai hal lain misalnya dana pensiun, asuransi, itu juga bisa kita melihat terus bertumbuh," jelas dia.
Meski demikian, Friderica mengakui pertumbuhan sejumlah sumber pembiayaan tersebut belum sesuai dengan harapan. Dinamika ekonomi global turut menjadi salah satu tantangan dalam mendorong pertumbuhan sektor keuangan.
Meski demikian, pertumbuhan kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan. Friderica mengatakan pertumbuhan kredit UMKM pada awal tahun masih berada di zona negatif.
Saat ini, pertumbuhan kredit UMKM telah berbalik positif dengan angka sekitar satu persen. Dia bilang, perkembangan tersebut menjadi harapan baru yang perlu diperkuat melalui dukungan lintas sektor.
"Kalau kita melihat awal tahun ini itu pertumbuhannya masih minus, jadi ada harapan baru di angka satu persen. Ada harapan bahwa ini harus dibutuhkan keberpihakan kita, sektor jasa keuangan, lintas kementerian/lembaga, harus terus mendukung agar UMKM itu terus bertumbuh," tegas Friderica.

(UMKM. Foto: dok Metrotvnews.com)
Kredit perbankan tumbuh 13,58%
Di sisi lain, Friderica menyebut kinerja intermediasi perbankan masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Kredit perbankan tercatat mencapai Rp9.135 triliun atau tumbuh 13,58 persen. Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh dua digit, yakni 11,21 persen dengan nilai mencapai sekitar Rp10.300 triliun.
"Kalau kita melihat memang angka kredit ini nominalnya Rp9.135 triliun dengan naik 13,58 persen; kemudian dana pihak ketiga juga tumbuh di 11,21 persen di Rp10.300 triliun," kata Friderica.
Menurut dia, sejumlah indikator tersebut menunjukkan kondisi sektor jasa keuangan masih cukup sehat. Hal itu tercermin antara lain dari rasio kecukupan modal dan indikator likuiditas.
"Ini memang kalau kita melihat sebenarnya sektor jasa keuangan kita, dengan CAR sangat sehat, kemudian AL/DPK juga, kemudian berbagai indikator lainnya, sebenarnya kita cukup optimistis," ujarnya.
Meski pertumbuhan kredit dan DPK menunjukkan tren positif, Friderica mengatakan tantangan selanjutnya memastikan peningkatan intermediasi dapat memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian dan masyarakat.
"Namun memang pertanyaannya adalah bagaimana kemudian ini bisa menumbuhkan kredit yang kemudian mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang bisa bermanfaat buat masyarakat," terang dia.