Ilustrasi bencana. Foto: Media Indonesia.
Bahu-membahu Hadapi Bencana
Media Indonesia • 8 September 2026 05:39
INDONESIA adalah negeri yang karib dengan bencana. Posisi geografis di Cincin Api Pasifik serta dinamika iklim global menjadikan Ibu Pertiwi senantiasa diintai ancaman.
Banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi, erupsi gunung api, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan silih berganti menguji daya tahan bangsa. Kenyataan itu tidak perlu disesali, tetapi mesti dijawab dengan kesiapsiagaan untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian materiel.
Kerusakan dapat ditekan dan pemulihan dipercepat apabila mitigasi, kesiapsiagaan, kecepatan respons, dan rencana pemulihan dilakukan secara terukur, serius, serta bersama-sama.
Bencana selalu membawa kehilangan. Rumah luluh lantak, jalan dan jembatan terputus, lahan pertanian rusak, bahkan nyawa yang tak mungkin dikembalikan. Karena itu, ketika bencana datang, yang dibutuhkan bukan perdebatan tentang siapa paling benar, apalagi saling menyalahkan. Saling tunjuk jari dan unjuk gigi tidak menyelesaikan persoalan. Yang diperlukan ialah kesediaan bergerak, bahu-membahu agar korban segera tertolong dan kehidupan kembali berjalan.
Baca Juga :
Jangan Takut kepada Anak Krakatau
Tak kalah memprihatinkan ialah adanya pihak yang menjadikan bencana sebagai komoditas sensasi, ajang panjat sosial, bahkan amunisi politik. Satu informasi palsu dapat mengacaukan distribusi bantuan dan memicu kepanikan.
Akal sehat pun harus menjadi pegangan. Bencana memiliki penjelasan ilmiah. Gempa berkaitan dengan dinamika geologi. Banjir dipicu fenomena cuaca dan dapat diperparah oleh kerusakan lingkungan serta tata ruang yang buruk. Tidak perlu menghubungkan bencana dengan ketidakselarasan mikrokosmos dan makrokosmos ataupun azab. Menghormati iman dan adat istiadat bukan berarti menumpulkan akal sehat.

Salah satu rumah rusak akibat gempa di Flores, NTT. Dok. BNPB
Yang dibutuhkan ialah kesadaran untuk bahu-membahu. Gotong royong bukan sekadar slogan, melainkan strategi bertahan hidup yang rasional sekaligus mencerminkan keindonesiaan.
Pemerintah sebagai nakhoda harus hadir bukan hanya ketika tanggap darurat, melainkan sejak sebelum bencana melalui mitigasi, sistem peringatan dini, edukasi, dan kesiapan infrastruktur. Relawan, organisasi keagamaan, dunia usaha, dan perguruan tinggi harus menjadi kekuatan gotong royong tersebut.
Masyarakat pun dapat berperan tanpa datang ke lokasi. Mulailah dari hal sederhana, seperti menjaga jari-jemari. Jangan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi demi ketenaran di media sosial.
Ketika alam menguji, hadapilah dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan gotong royong.