Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Naik Lagi, Brent USD95,88 per Barel
Eko Nordiansyah • 4 September 2026 07:57
Houston: Harga minyak mencatat kenaikan moderat pada Kamis, 3 September 2026 mencapai level tertinggi dalam tiga bulan. Harga minyak memperpanjang lonjakan mingguan yang signifikan, di tengah ketegangan yang masih tinggi antara AS dan Iran.
Sementara itu, gejolak harga minyak mentah dan gangguan pasokan akibat perebutan kendali atas Selat Hormuz mendorong harga solar nasional AS ke rekor tertinggi baru.
Dikutip dari Investing, Jumat, 4 September 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 0,3 persen menjadi USD95,88 per barel. Sedangkan kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober naik 0,8 persen menjadi USD91,74 per barel.
Kedua kontrak tersebut masing-masing telah melonjak 8,3 persen dan 9,8 persen sepanjang minggu ini.
Iran balas serangan AS
Washington dan Teheran sempat mengalami kebuntuan terkait kendali atas Selat Hormuz menjelang akhir pekan lalu, dan Presiden Donald Trump tampaknya telah mengubah strateginya dari serangan militer menjadi perang ekonomi. Namun, aksi militer kembali terjadi pada hari Minggu untuk pertama kalinya sejak Juli dan telah meningkat dalam beberapa hari terakhir, dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan.AS menyerang situs pertahanan udara, sistem radar, dan fasilitas komunikasi Iran pada hari Selasa; Teheran membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di negara-negara sekutu Washington di kawasan tersebut.
Media pemerintah Iran melaporkan adanya serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal terhadap pangkalan AS di Kuwait, sementara kementerian luar negeri Kuwait secara terpisah menyatakan bahwa Iran telah melakukan tindakan agresif pada Kamis dini hari.
Pada hari Rabu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa menurutnya ketegangan militer baru dengan Iran tidak akan berlangsung "terlalu lama" dan kembali menyoroti masalah pengendalian Selat Hormuz.
Pada Kamis pagi, Presiden AS tersebut mengunggah grafik di layanan Truth Social miliknya yang menyatakan bahwa volume minyak yang mengalir melalui jalur air vital tersebut saat ini mencapai 18 juta barel per hari, dibandingkan dengan 20 juta barel sebelum konflik terjadi.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis bahwa 15 juta barel minyak telah melewati selat tersebut pada hari Rabu.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Harga diesel AS mencapai rekor tertinggi
Data GasBuddy menunjukkan harga rata-rata nasional diesel AS secara real-time mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di angka USD5,820 per galon. Menurut AAA, rata-rata nasional berada di angka USD5,7832 per galon. Data AAA juga menunjukkan harga rata-rata nasional bensin berada di angka USD4,1436 per galon, naik dari USD3,1903 setahun yang lalu."Alasan mengapa harga bahan bakar begitu tinggi saat ini adalah karena pihak Iran menembaki kapal-kapal komersial," ujar Vance kepada wartawan.
"Kita bisa menerima kenyataan bahwa pihak Iran akan menembaki kapal-kapal layaknya orang gila, dan kita akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan upaya mereka tidak memicu krisis energi global. Sejauh ini, kita telah cukup berhasil. Terus terang, harga bahan bakar bisa saja jauh lebih tinggi jika bukan karena upaya-upaya kita. Namun, saya tidak akan menjanjikan kapan harga akan kembali ke level USD3," kata Wakil Presiden AS tersebut.
"Saat ini tidak ada operasi tempur besar yang sedang berlangsung, dan hal itu memang sudah lama tidak terjadi. Faktanya, tindakan yang kami ambil beberapa hari lalu bertujuan untuk mempersulit pihak Iran menembaki kapal-kapal komersial—sekali lagi, demi menjamin kelancaran pasokan minyak dan gas ke pasar energi dunia," tambahnya, merujuk pada serangan AS yang terjadi pada hari Selasa.
Sorotan pada persediaan minyak AS
Pasar juga menerima sinyal positif (bullish) dari data persediaan AS. Stok minyak mentah komersial AS turun sebesar 4,5 juta barel pada pekan lalu, penurunan pertama dalam lima minggu yang berlawanan dengan perkiraan analis mengenai adanya sedikit kenaikan.Data persediaan produk menunjukkan hasil yang beragam. Stok bensin turun sebesar 1,2 juta barel, sementara persediaan distilat, termasuk solar dan minyak pemanas, naik sekitar 800 ribu barel.
Perhatian kini juga tertuju pada OPEC+. Kelompok ini diperkirakan akan mempertahankan kebijakan produksi minyak bulan Oktober tanpa perubahan dalam pertemuan hari Minggu, setelah merampungkan tahapan pengurangan produksi sebesar 1,65 juta barel per hari sesuai jadwal.
Sebelumnya, OPEC+ telah menaikkan kuota produksi September sebesar 188 ribu barel per hari.