Pemerintah Pertahankan Subsidi Energi demi Jaga Daya Beli

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam Acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia. Foto: Tangkapan layar siaran YouTube Metro TV.

Pemerintah Pertahankan Subsidi Energi demi Jaga Daya Beli

Andika Fauzan Azhari • 3 September 2026 14:01

Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan akan terus menahan gejolak harga minyak dunia agar tidak membebani daya beli masyarakat. Kebijakan ini ditempuh dengan mempertahankan skema subsidi energi dan mengoptimalkan ruang fiskal yang dinilai masih memadai.

Langkah ini disiapkan guna mengantisipasi risiko lonjakan harga minyak mentah global yang berpotensi menyentuh angka USD100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

"Jadi ketika harga mulai naik, Pak Presiden tanya sama saya untuk ngitung dampaknya sampai USD100 per barel harga minyak dunia. Kalau didiamkan, bisa dikendalikan? Bisa. Daya beli masyarakat dijaga dengan meng-absorb kenaikan harga minyak dunia melalui subsidi," ujar Purbaya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Kamis, 3 September 2026.

Pemerintah optimistis intervensi subsidi energi ini tidak akan merusak kestabilan anggaran negara. Posisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipastikan tetap terjaga aman di bawah ambang batas ketat tiga persen.
 


Pakar: Subsidi Energi dalam Bentuk Produk Terbukti Tidak Tepat Sasaran

(Ilustrasi BBM bersubsidi. Foto: dok Pertamina)

 

Efisiensi belanja non-prioritas


Untuk menopang beban subsidi tanpa memperlebar defisit secara tajam, Kementerian Keuangan merancang penataan ulang pada pos pengeluaran negara. Pemerintah akan memangkas belanja operasional yang dinilai kurang produktif dan mengalokasikannya untuk memperkuat perlindungan sosial serta stabilitas harga energi.

Hingga pertengahan tahun, kinerja APBN menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Efisiensi belanja dan tingginya realisasi penerimaan negara membuat pemerintah memiliki ruang gerak yang cukup fleksibel untuk meredam dampak krisis global dari luar.

"Kita kendalikan belanja-belanja yang enggak perlu dan tetap membolehkan belanja-belanja yang lebih produktif. Hitungan kita defisitnya tetap di bawah tiga persen, sekitar 2,85 persen. Jadi kesinambungan fiskalnya tetap terjaga," tegas Purbaya.

Melalui kombinasi penghematan pos internal dan pertahanan subsidi energi, pemerintah menjamin roda perekonomian domestik tetap bergerak stabil serta konsumsi masyarakat tidak terganggu oleh dinamika pasar internasional.

(Husen Miftahudin)