RSUD Cicalengka Nonaktifkan Oknum Perawat Berkomentar Nirempati di Medsos

Ilustrasi: Tampak depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. ANTARA/Ilham Nugraha.

RSUD Cicalengka Nonaktifkan Oknum Perawat Berkomentar Nirempati di Medsos

Silvana Febiari • 7 August 2026 19:14

Bandung: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menonaktifkan sementara seorang oknum perawat. Perawat tersebut diduga mengunggah komentar di media sosial yang dinilai tidak menunjukkan empati.

Direktur RSUD Cicalengka Yani Sumpena Muchtar mengatakan pihaknya langsung melakukan investigasi setelah menerima laporan melalui akun media sosial rumah sakit.

"Untuk sementara kami nonaktifkan dulu dari pelayanan. Kamis pagi kami langsung melakukan investigasi. Komite Keperawatan turun, kepala bidang turun, kemudian yang bersangkutan kami panggil untuk dimintai keterangan," ujar Yani, dilansir dari Antara, Jumat, 7 Agustus 2026.
 


Hasil penelusuran internal menemukan oknum perawat tersebut turut memberikan komentar pada unggahan terkait meninggalnya pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), almarhum Yurizal.

Rumah sakit segera mengambil langkah administratif dengan memberikan pembinaan, menarik sementara yang bersangkutan dari pelayanan, serta melaporkan kasus tersebut kepada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM).

"Kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah, sambil menunggu proses administrasi lebih lanjut. Hari ini juga kami melaporkan ke BKPSDM," tambah Yani.

Oknum perawat tersebut juga telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui video. Dalam pernyataannya, yang bersangkutan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum Yurizal, meminta maaf kepada keluarga korban, Direktur RSUD Cicalengka, masyarakat, serta menyatakan siap menerima sanksi dari instansi tempatnya bekerja.

Komentar yang dinilai nirempati terhadap pasien BPJS tersebut menjadi perhatian publik setelah beredar di media sosial dan memicu reaksi warganet.

Yani mengaku kecewa atas tindakan oknum pegawainya tersebut. Apalagi, kejadian itu terjadi di tengah upaya RSUD Cicalengka membangun budaya pelayanan 5S, yakni Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun.

"Sebetulnya kami sangat kecewa. Saat ini kami sedang gencar membudayakan 5S untuk meningkatkan mutu pelayanan, tetapi ada oknum yang menggunakan bahasa yang kurang pantas di media sosial," ungkapnya.


Ilustrasi dokter. Foto: dok. Medcom.


Pada kesempatan tersebut, ia menegaskan peristiwa yang menjadi pembahasan di media sosial tersebut tidak terjadi di RSUD Cicalengka. Namun, keterlibatan oknum pegawai dalam memberikan komentar yang dinilai tidak beretika membuat identitas tempat kerjanya diketahui publik, sehingga memicu sorotan warganet.

"Perlu kami luruskan bahwa kejadiannya bukan di RSUD Cicalengka. Yang menjadi persoalan adalah komentar oknum pegawai kami yang dinilai kurang beretika," ujar Yani.

RSUD Cicalengka akan menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi. Tujuannya memperkuat pembinaan etika profesi dan etika bermedia sosial bagi seluruh pegawai agar kejadian serupa tidak terulang.

(Silvana Febiari)