Mengubah Lahan yang Dianggap Tak Berguna Jadi Sumber Nilai

Ilustrasi. Dok Bumibaru.

Mengubah Lahan yang Dianggap Tak Berguna Jadi Sumber Nilai

Arga Sumantri • 12 August 2026 18:55

Jakarta: Banyak perusahaan agribisnis sibuk berburu lahan baru demi menggenjot kapasitas produksi. Padahal, potensi besar kerap kali tersembunyi pada aset lahan rusak milik sendiri yang terlanjur dianggap tidak dapat digunakan kembali.

"Banyak perusahaan mencari lahan baru, padahal lahan yang mereka punya sendiri belum selesai dikerjakan," ujar CEO Bumibaru, Ramavito Mountaino, dalam keterangan tertulis, Rabu, 12 Agustus 2026.

Ramavito menjelaskan bahwa lahan subur kini makin langka dan mahal. Sebaliknya, ketersediaan lahan terdegradasi sangat melimpah dengan harga yang hampir tak bernilai. Selama ini, lahan marjinal cepat diabaikan karena diasumsikan biaya pemulihannya tidak sebanding.

Uji Coba di Lahan Pasir Tangkiling

Untuk mematahkan asumsi tersebut, Bumibaru melakukan uji coba di Tangkiling, Kalimantan Tengah. Lahan ini memiliki kandungan pasir hingga 94 persen akibat hilangnya vegetasi alami serta tingkat keasaman tanah (pH) yang sangat tinggi, sehingga hampir tidak mampu menyimpan air.

Proses pemulihan dilakukan secara bertahap melalui pendekatan saintifik:
  • Restorasi Tanah: Memperbaiki struktur tanah menggunakan kombinasi mineral, bahan organik, serta membangun kembali ekosistem mikroorganisme biologis.
  • Hasil Berkelanjutan: Setelah delapan bulan intervensi (dikelola sejak September 2023), tingkat keasaman (pH) tanah naik signifikan dari 4,40 menjadi 6,01 sehingga layak untuk budidaya pertanian.
  • Capaian Produksi: Lahan ini telah menghasilkan lebih dari 307 ton komoditas pertanian seperti pisang kepok, nanas madu, dan semangka, dengan survival rate tanaman mencapai 94 persen.

Replikasi Model Restorasi Lahan

Menurut Ramavito, keberhasilan di Tangkiling membuktikan bahwa lahan yang terdegradasi parah sekali pun tetap bisa dipulihkan dan bernilai ekonomis tinggi.

"Pekerjaan yang sesungguhnya adalah membuktikan kalau cara pengerjaan di Tangkiling dapat diulang di lahan lain dengan karakter tanah, iklim, dan tantangan berbeda. Tanpa itu, Tangkiling hanya akan berhenti sebagai cerita menarik dari satu lokasi," ungkapnya.

Memasuki fase berikutnya, Bumibaru memperluas jangkauan layanan dengan menawarkan jasa restorasi dan pengembangan lahan bagi pemilik lahan tidur maupun area perkebunan yang sudah tidak produktif.

(Arga Sumantri)