Ilustrasi emas batangan. Foto: Goldbulliondealers.co.uk
Kesepakatan Iran-Oman Dongkrak Harga Emas, Berpeluang Tembus USD5.000/Troy Ons
Ihfa Firdausya • 9 August 2026 15:33
Jakarta: Harga emas dunia dan logam mulia diproyeksikan menguat seiring perkembangan kesepakatan pengelolaan Selat Hormuz antara Iran dan Oman.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pembentukan manajemen bersama atau co-management untuk mengawasi jalur pelayaran tersebut dapat menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan harga emas.
Ibrahim memperkirakan harga emas dunia masih berpeluang mengalami kenaikan dalam sepekan ke depan. "Range-nya di USD4.151 per troy ons, kemudian resistennya adalah USD4.493 per troy ons," kata Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Minggu, 9 Agustus 2026.
Untuk perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia masih berpotensi bergerak menguat. Menurut dia, level support emas dunia diperkirakan berada di USD4.279 per troy ons, sedangkan level resistance berada di USD4.405 per troy ons. Pergerakan harga tersebut juga diperkirakan berdampak pada harga logam mulia di dalam negeri.
Ibrahim juga memperkirakan harga logam mulia dalam sepekan ke depan berada pada kisaran Rp2,55 juta per gram dengan level resistance Rp2,82 juta per gram.
Sementara untuk perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, harga logam mulia diproyeksikan memiliki level support Rp2,67 juta per gram dan resistance Rp2,71 juta per gram.
"Jadi ada kemungkinan harga logam mulia ini akan menguat walaupun rupiah juga menguat. Namun penguatan mata uang rupiah membuat kenaikan harga logam mulia sedikit terbatas," jelas Ibrahim.
Geopolitik Timur Tengah jadi sentimen
Ibrahim mengatakan perkembangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi pergerakan harga emas dunia dan logam mulia. Salah satu perhatian utama ialah perkembangan kesepakatan Iran dan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Menurut dia, jika kesepakatan tersebut terealisasi, potensi penurunan harga minyak akibat meredanya konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi perpindahan dana investor global ke aset emas yang dipandang sebagai safe haven.
"Ada harapan terjadinya penurunan harga minyak akibat perdamaian di Timur Tengah ini akan membuat investor global mengalihkan dananya dari dolar kemudian dari minyak mentah ke emas sebagai safe haven."
.jpg)
(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Harga emas berpeluang tembus USD5.000
Ibrahim memperkirakan harga emas dunia berpotensi mencapai USD5.000 per troy ons pada kuartal III-2026 apabila kesepakatan antara Oman dan Iran mengenai pengelolaan Selat Hormuz tercapai dan konflik tidak mengganggu jalur tersebut.
"Kalau level USD5.000 per troy ons tercapai di kuartal ketiga, kemungkinan besar untuk logam mulia pun juga akan di atas Rp3 juta per gram," ungkap Ibrahim.
Ibrahim menilai perkembangan kesepakatan pengelolaan Selat Hormuz antara Iran dan Oman dapat menjadi salah satu sentimen positif bagi harga emas dan logam mulia.
"Ini adalah awal terbaik untuk harga emas dunia dan logam mulia melejit lebih tinggi lagi dibandingkan dengan sebelumnya pasca adanya kesepakatan untuk pengendalian Selat Hormuz antara Iran dan Oman dan itu pun juga didukung oleh Amerika Serikat," tutup dia.