Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo memimpin konferensi pers perayaan Paskah di Gereja Katedral, Jakarta. Foto: ANTARA/Asep Firmansyah.
Kardinal Suharyo: Gereja Katolik Tempatkan Perdamaian Dunia Prioritas Utama
Fachri Audhia Hafiez • 5 April 2026 12:49
Jakarta: Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, menegaskan bahwa Gereja Katolik menempatkan perdamaian dunia sebagai prioritas pelayanan utama di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Hal ini sejalan dengan arah kepemimpinan Paus Leo XIV yang secara konsisten menyuarakan penghentian kekerasan global sejak awal masa jabatannya.
“Itu artinya, beliau sungguh-sungguh ingin menyatakan bahwa masa kepemimpinan pelayanan sebagai Paus akan mengusahakan perdamaian,” ujar Kardinal Suharyo usai memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral Jakarta, dilansir Antara, Minggu, 5 April 2026.
Kardinal Suharyo mengungkapkan bahwa Paus telah memberikan pernyataan yang sangat keras terkait para pemimpin dunia yang memicu konflik bersenjata. Menurutnya, pesan suci tersebut menekankan bahwa tindakan peperangan merupakan pengkhianatan terhadap nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
“Bahkan, dengan kata-kata yang sangat keras mengenai perang, beliau mengatakan doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan. Kata-kata keras sekali,” tegas Kardinal Suharyo.
Lebih lanjut, Kardinal menilai peperangan yang terjadi saat ini bukan hanya merusak tatanan bumi, tetapi juga merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional serta nilai-nilai yang dijunjung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Penderitaan besar umat manusia menjadi dampak tak terelakkan dari ambisi kekuasaan tersebut.
“Yang ada adalah akibat yang sangat buruk, bukan hanya bagi dunia, bagi bumi, tetapi bagi umat manusia,” imbuhnya.

Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral Jakarta. Foto: ANTARA/HO-Kosmos Katedral Jakarta.
Selain isu perdamaian, Kardinal Suharyo menyoroti pentingnya "ekologi integral" sebagai cara pandang menyeluruh terhadap lingkungan hidup. Ia mengaitkan kerusakan alam dengan moralitas manusia yang didominasi oleh sikap serakah dan pengabaian terhadap solidaritas sesama.
“Selama keserakahan masih dominan, apalagi didukung kekuatan yang merusak, maka kerusakan akan terus terjadi,” ujar Kardinal Suharyo.
Menutup pesan Paskah tersebut, Kardinal Suharyo mengajak masyarakat untuk melakukan pertobatan ekologis yang dimulai dari perubahan hati nurani. Ia menekankan pentingnya menerapkan gaya hidup sederhana dan secukupnya sebagai bentuk pengendalian diri di tengah situasi global yang penuh tantangan.