Ilustrasi. Foto: Freepik.
Kilau Emas Benderang, Naik 5 Persen dalam Sepekan
Eko Nordiansyah • 22 August 2026 08:50
Chicago: Harga emas pada Jumat, 21 Agustus 2026, berada di level tertinggi dalam tiga bulan. Emas mencatatkan kenaikan mingguan lebih dari lima persen, didorong oleh pelemahan dolar AS di tengah aksi jual berkepanjangan pada obligasi Treasury tenor panjang.
Dikutip dari Investing, Sabtu, 22 Agustus 2026, harga emas spot naik 2,1 persen menjadi USD4.617,23 per ons, sementara emas berjangka naik 2,2 persen menjadi USD4.673,84 per ons. Selama sepekan, harga emas spot naik 5,6 persen, sedangkan emas berjangka naik 5,4 persen.
Kabar utama pasar obligasi pekan ini
Pelaku pasar logam mulia berfokus pada sektor pendapatan tetap (fixed-income) pekan ini.Sebelum hari Rabu, obligasi Treasury AS tenor panjang khususnya mengalami aksi jual—yang kira-kira telah berlangsung sejak keputusan suku bunga The Fed bulan Juli—akibat kekhawatiran inflasi karena kenaikan harga minyak dan kekhawatiran mengenai besarnya utang yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa untuk mendanai belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun pada hari Selasa sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun di angka 5,337 persen, sementara imbal hasil acuan tenor 10 tahun mencetak rekor tertinggi baru dalam 52 minggu di angka 4,748 persen.
Obligasi dengan tenor lebih pendek mencatatkan kinerja yang jauh lebih baik, terbantu oleh data ekonomi terkini yang mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Unplash)
Kemudian, pada hari Rabu, Departemen Keuangan AS menyatakan akan meningkatkan nilai pembelian kembali (buyback) utang pemerintah berjangka panjang dari USD2 miliar menjadi setidaknya USD4 miliar. Intervensi tak terduga ini memicu lonjakan harga obligasi jangka panjang yang menyebabkan imbal hasil (yield) turun.
Namun, sebagian besar kenaikan tersebut terhapus pada hari Kamis dan Jumat, yang mengindikasikan bahwa para pedagang memandang langkah itu hanya sebagai solusi jangka pendek. Kekhawatiran fiskal akibat berita bahwa utang AS telah melampaui USD40 triliun juga turut membebani sentimen pasar.
Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun terakhir tercatat naik 3,5 basis poin menjadi 5,272 persen, sementara imbal hasil tenor 10 tahun naik 3,7 basis poin menjadi 4,735 persen.
Kenaikan suku bunga
Menteri Keuangan Scott Bessent pada hari Kamis berupaya memberikan sentimen positif lebih lanjut dengan mengatakan bahwa nilai pembelian kembali yang diusulkan bisa melebihi angka USD4 miliar yang telah diumumkan, serta menyoroti adanya "perangkat kebijakan yang luas" untuk menurunkan imbal hasil.Kenaikan imbal hasil obligasi cenderung berdampak serupa dengan kenaikan suku bunga karena meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan dunia usaha; hal ini pada umumnya cenderung menekan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding assets), seperti emas.
Namun, membengkaknya utang AS telah memicu keraguan fiskal yang kian besar. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung memindahkan modal dari mata uang fiat ke aset riil (hard assets) seperti emas atau mata uang kripto—sebuah strategi yang dikenal sebagai debasement trade (perdagangan antisipasi penurunan nilai mata uang).
Saat ini, perhatian tertuju pada Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole pekan depan untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga.