Iran Klaim Tingkatkan Produksi Senjata hingga 2,5 Kali Lipat

Iran mengklaim telah meningkatkan kapasitas produksi senjata hingga 2,5 kali lipat. (Anadolu Agency)

Iran Klaim Tingkatkan Produksi Senjata hingga 2,5 Kali Lipat

Willy Haryono • 6 October 2026 21:05

Teheran: Iran mengklaim telah meningkatkan kapasitas produksi senjata secara signifikan, bahkan hingga 2,5 kali lipat lebih tinggi dari sebelumnya, seraya memperingatkan bahwa setiap serangan baru dari Amerika Serikat (AS) atau Israel akan dibalas dengan respons yang lebih kuat.

Menurut laporan media Fars News Agency, Selasa, 6 Oktober 2026, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran Reza Talaei-Nik mengatakan bahwa setiap serangan baru akan dihadapi dengan “respons tegas” dan menyebabkan kerugian lebih besar bagi pihak yang menyerang Iran.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan terhadap Kuh-e Kolang atau kerap disebut Pickaxe Mountain, Talaei-Nik mengatakan target yang dapat diserang oleh angkatan bersenjata Iran sebagai respons terhadap agresi baru telah disiapkan.

Ia mengatakan angkatan bersenjata Iran telah memperoleh senjata dan teknologi canggih, termasuk kemampuan rudal dan drone, sistem pertahanan udara yang ditingkatkan, serta berbagai sistem angkatan laut, darat, dan udara lainnya.

Talaei-Nik juga mengatakan Iran telah menyediakan “teknologi rudal dan drone yang lebih canggih” kepada angkatan bersenjatanya, disertai peningkatan sistem pertahanan udara, angkatan laut, dan darat.

Menurut dia, kapasitas produksi senjata, peralatan pertahanan, dan amunisi Iran telah meningkat 2,5 kali lipat dibandingkan sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari.

“Produksi beberapa jenis senjata telah meningkat lebih dari tiga kali lipat,” ujar Talaei-Nik.

Ia mengatakan lebih dari 1.000 sistem, senjata, jenis peralatan, dan amunisi saat ini berada dalam kapasitas produksi Kementerian Pertahanan Iran dan jaringan mitranya.

Kerja Sama dengan Rusia dan Tiongkok

Talaei-Nik juga mengatakan kerja sama pertahanan Iran dengan Rusia dan Tiongkok tidak berhenti atau menurun meski terjadi perkembangan terbaru.

Menurut dia, kerja sama strategis dengan Moskow dan Beijing tetap berjalan berdasarkan kesepakatan yang ada, dengan pertukaran di bidang politik dan pertahanan terus berlangsung.

Juru bicara tersebut menambahkan bahwa diplomasi pertahanan dan konsultasi dengan kedua negara bahkan meningkat di sejumlah bidang, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Ketegangan terbaru tersebut menyusul perang AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari. Dalam konflik tersebut, serangan menargetkan fasilitas militer dan nuklir Iran serta pejabat senior militer, sementara Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan target militer AS di kawasan.

Baca juga: Rusia Siap Salurkan Pinjaman Rp17 Triliun ke Iran di Tengah Sanksi AS

(Willy Haryono)