Warga Kampung Pelangi Berharap Penataan Tak Hilangkan Akses Hunian Terjangkau

Suasana Kampung Pelangi di Cipete Utara, Kebayoran Baru yang merupakan kawasan pemulung di tengah Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (14/10/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.

Warga Kampung Pelangi Berharap Penataan Tak Hilangkan Akses Hunian Terjangkau

Anggi Tondi Martaon • 14 October 2026 18:30

Jakarta: Warga Kampung Pelangi, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, memiliki harapan terhadap rencana penataan lingkungan tersebut. Yakni, penataan yang dilakukan tak menghilangkan akses terhadap tempat tinggal yang terjangkau.

"Kalau misalnya buat kayak semacam rumah susun kayaknya kasihan juga. Kan kalau rumah susun kan biasanya kan banyak, harga juga mahal," kata anggota Dasawisma RT 07/RW 09 Kampung Pelangi, Heni, dikutip dari Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.

Heni mengatakan warga pada dasarnya menginginkan permukiman yang lebih rapi. Namun, ia berharap penataan tidak berujung pada pemindahan ke hunian yang biaya sewanya lebih tinggi dari kemampuan ekonomi mereka.

Kawasan kampung Pelangi dihuni sekitar 300 kepala keluarga (KK) yang berasal dari berbagai daerah. Sebagian besar warga bekerja sebagai pemulung, sementara lainnya bekerja sebagai buruh dan asisten rumah tangga.

Menurut dia, biaya tempat tinggal menjadi salah satu pertimbangan penting untuk bertahan di kawasan tersebut.
 


Hal serupa disampaikan seorang warga asal Cirebon, Esri yang telah tinggal di Jakarta selama puluhan tahun. Dirinya memilih tinggal di kawasan itu setelah sebelumnya harus berpindah tempat tinggal akibat penggusuran.

Esri mengatakan biaya tempat tinggal yang murah menjadi pertimbangan utama menetap di Kampung Pelangi. Sebab, harus membesarkan anak-anak dengan penghasilan terbatas.

Saat ini, Esri membayar sewa sekitar Rp600 ribu per bulan. Ia juga tinggal bersama anggota keluarga, termasuk cucu dan seorang keponakan yang diasuhnya.


Suasana Kampung Pelangi di Cipete Utara, Kebayoran Baru yang merupakan kawasan pemulung di tengah Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (14/10/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.

Meski demikian, dia bersedia pindah ke rumah susun apabila tersedia hunian dengan biaya yang sesuai kemampuan ekonominya dan lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggal sekarang. "Iya mau," kata Esri.

Selain persoalan hunian, warga berharap mendapat kesempatan mengikuti pelatihan kerja. "Ya mau, kalau emang ada mah. Ya mau, masih kuat ini kerja," ungkap Esri.

Esri berharap pemerintah memperhatikan kebutuhan tempat tinggal dan penghidupan mereka apabila suatu saat dilakukan penataan kawasan.

(Anggi Tondi)