Politikus Muslim Makin Memegang Kendali Politik AS usai Kemenangan Pemilu Sela

Abdul el Sayed memenangkan kursi senat AS dalam pemilu sela. Foto: The New York Times

Politikus Muslim Makin Memegang Kendali Politik AS usai Kemenangan Pemilu Sela

Fajar Nugraha • 5 November 2026 06:35

Washington: Pemilu sela yang sudah berakhir di Amerika Serikat (AS) membuahkan banyak kejutan.

Partai Demokrat jelas menjadi pemenang utama dengan “Blue Wave” mereka menyapu bersih kuasa di Senat dan DPR AS. Tetapi ada yang menarik di balik hasil pemilu sela itu.

Kemunculan politikus Muslim yang meraih kemenangan di level Senat hingga senat negara bagian membuat peta politik di Amerika Serikat semakin menarik.

Siapa saja politikus Muslim yang patut diperhatikan dalam pemerintahan AS saat ini? Berikut sosok itu:

Tokoh utama dan anggota ‘The Squad’ kembali ke Kongres


Dua wakil perempuan Muslim paling vokal di DPR AS berhasil  mengamankan masa jabatan berikutnya melalui kemenangan meyakinkan:

Ilhan Omar (DPR AS – Minnesota Distrik 5)

Anggota DPR AS asal Minnesota ini sukses mengamankan masa jabatan kelimanya berturut-turut di Capitol Hill setelah mengalahkan pesaingnya dari Partai Republik, John Nagel.

Tokoh kelahiran Somalia yang merupakan salah satu wanita Muslim pertama di Kongres AS ini tetap memfokuskan platformnya pada perlindungan hak-hak imigran, reformasi sistem pengadilan, serta kebijakan luar negeri yang berorientasi pada kemanusiaan.

Rashida Tlaib (DPR AS – Michigan Distrik 12)

Politikus wanita keturunan Palestina-Amerika pertama di Kongres AS ini kembali memenangkan kursi DPR AS dari Distrik 12 Michigan. Tlaib, yang dikenal vokal menyuarakan hak-hak buruh dan keadilan iklim di Detroit dan sekitarnya, berhasil mempertahankan keunggulannya dengan dukungan penuh basis pemilih kelas pekerja.

Rekor Baru di Senat AS dan Legislatif Negara Bagian

Selain tokoh pertahana (incumbents), jajaran wajah baru turut mengukir sejarah nasional:

Abdul El-Sayed (Senat AS – Michigan)

Mantan pejabat kesehatan publik ini berhasil menorehkan sejarah nasional sebagai pria Muslim pertama yang terpilih menjadi Senator AS, mewakili Negara Bagian Michigan dari Partai Demokrat.

Kemenangannya menjadi simbol transformasi representasi Muslim di tingkat majelis tinggi.
   

Adam Hamawy (DPR AS- New Jersey Distrik 12)

Kandidat Partai Demokrat Adam Hamawy berhasil menang dalam pemilihan umum sela mengalahkan kandidat Partai Republik Gregg Mele, dan mencatat sejarah sebagai anggota Muslim pertama dari negara bagian tersebut yang terpilih menjadi anggota Kongres AS.

Hamawy merupakan dokter bedah plastik, mantan dokter tempur Angkatan Darat AS, sekaligus pekerja medis kemanusiaan. Ia akan menggantikan Bonnie Watson Coleman, anggota DPR AS yang pensiun setelah sekitar satu dekade menjabat di House of Representatives.
 

Aber Kawas (Senat Negara Bagian New York – Distrik 12)

Aktivis komunitas dan tokoh pengorganisir masyarakat ini memenangkan kursi Senat Negara Bagian New York Distrik 12.

Kemenangan ini menjadikannya wanita Palestina-Amerika pertama sekaligus wanita Muslim pertama yang berhasil menembus Lembaga Legislatif Negara Bagian New York (New York State Legislature).

Darializa Avila Chevalier (DPR AS – New York Distrik 13)

Tokoh muda berlatar belakang aktivis komunitas dan mantan pendidik ini memenangkan kursi DPR AS mewakili Distrik 13 New York. Didukung kelompok Democratic Socialists of America (DSA), Avila Chevalier mengusung agenda progresif radikal seperti perumahan sosial terjangkau, pencabutan lembaga ICE, serta pembatasan dana perang.

Nabeela Syed (Senat Negara Bagian Illinois)

Politikus muda Partai Demokrat ini melanjutkan tren positifnya di panggung politik Illinois dengan berhasil mempertahankan dan memperkuat posisi legislatifnya di tingkat negara bagian.

Perubahan Sosial dan Peta Politik

Kemenangan kolektif para figur ini memperlihatkan pergeseran signifikan dalam lanskap politik AS. Kehadiran politikus Muslim dan aktivis progresif di Capitol Hill maupun di tingkat pemerintah daerah kini bukan lagi sekadar pelengkap kuota keberagaman, melainkan kekuatan politik nyata yang menggerakkan agenda kebijakan publik, perumahan, kesehatan, hingga posisi diplomatik Amerika Serikat di mata dunia.

Kemenangan Ilhan Omar, Rashida Tlaib, dan Aber Kawas memperkuat konsolidasi kelompok progresif pro-Palestina dalam politik AS. Berada di tingkat DPR Federal (U.S. House) dan Senat Negara Bagian (State Senate), pengaruh mereka mewujud melalui kombinasi daya dorong legislatif federal dan tekanan akar rumput dari tingkat lokal.

Beberapa hal yang bisa disuarakan antara lain:

1. Pengetatan Syarat Syarat dan Penghentian Bantuan Militer AS

Pendekatan Hak Asasi Manusia: Sebagai anggota Kongres, Ilhan Omar dan Rashida Tlaib secara konsisten mendorong agar bantuan militer AS kepada negara mitra di Timur Tengah—terutama Israel—diikat erat dengan pemenuhan standar HAM internasional. 

Kemenangan ini memperkuat daya tawar fraksi progresif untuk memblokir atau menembus klausul penjualan senjata bebas syarat (unconditional military aid).

Inisiatif Pembatasan Tingkat Negara Bagian: Di tingkat New York, Aber Kawas aktif memperjuangkan RUU seperti "Not On Our Dime". RUU ini bertujuan menghentikan status bebas pajak (tax-exempt status) bagi badan amal atau organisasi di AS yang menyalurkan dana untuk pendudukan wilayah permukiman di Tepi Barat. Ini membuktikan bahwa kebijakan luar negeri juga mulai dipengaruhi oleh instrumen legislatif lokal.

2. Evaluasi Ulang Hubungan Aliansi Tradisional di Timur Tengah

Pengawasan Hubungan AS–Israel: Kehadiran Rashida Tlaib dan Ilhan Omar di Washington terus menantang konsensus bipartisan tradisional pro-Israel. Keduanya secara vokal mengkritik kebijakan pendudukan, menuntut penghentian genosida, dan mendorong akuntabilitas atas pelanggaran hukum internasional.

Kritik Bipartisan atas Normalisasi tanpa Hak Palestina: Figur-figur ini juga secara kritis menolak model normalisasi seperti Abraham Accords yang mengabaikan penyelesaian isu kenegaraan Palestina demi aliansi geopolitik pragmatis dengan rezim-rezim otoriter di kawasan Teluk.

3. Dorongan Solusi Diplomatik dan Penghentian Perang Berkelanjutan (No Money for War)

Perhentian Intervensi Militer: Platform politik yang diusung ketiga figur ini menyuarakan prinsip "No Money for War"—menolak keterlibatan perang langsung maupun pendanaan konflik militer baru di Timur Tengah.

Penguatan Peran Diplomasi Multilateral: Mereka mendorong pemerintah AS untuk mengalihkan fokus dari intervensi militer ke upaya diplomatik yang melibatkan lembaga-lembaga multilateral (seperti PBB) serta menuntut perlindungan hak-hak pengungsi dan pencari suaka di kawasan tersebut.

4. Pergeseran Diskursus Publik dan Lobbying dalam Politik Domestik AS


Kemenangan mereka semakin melegitimasi suara kelompok Muslim dan pro-Palestina di ruang publik AS.Hal ini mengikis dominasi kelompok lobi pro-pemerintah Israel (seperti AIPAC) dan memberi keberanian bagi politikus Demokrat mainstream untuk mengambil sikap lebih tegas terkait keadilan sosial di Timur Tengah.

5. Peran Abdul El-Sayed

Sebagai akademisi, dokter, dan mantan direktur dinas kesehatan publik Detroit, Abdul El-Sayed membawa agenda progresif yang berfokus pada reformasi domestik mendasar. Latar belakang medisnya memperkuat dorongan untuk mewujudkan layanan kesehatan publik seperti Medicare for All, memperluas jangkauan asuransi publik, serta menekan harga obat-obatan resep agar lebih terjangkau bagi masyarakat luas.

Selain kesehatan, El-Sayed menempatkan keadilan lingkungan dan ekonomi rakyat sebagai prioritas utamanya. Berbekal keahliannya dalam menangani krisis air di Michigan, ia mendorong regulasi lingkungan yang lebih ketat bagi industri pencemar. Di bidang ekonomi, ia berkomitmen memperjuangkan hak-hak pekerja melalui peningkatan upah minimum, perlindungan buruh, dan investasi masif pada infrastruktur publik.

Kehadirannya di Senat AS juga memberi bobot baru pada pengawasan kebijakan luar negeri dan isu Timur Tengah. Melalui kewenangan Senat dalam ratifikasi perjanjian internasional dan konfirmasi pejabat diplomatik, El-Sayed mendorong akuntabilitas hak asasi manusia sebagai syarat bantuan militer luar negeri.

El-Sayed klaim siap mengimbangi pengaruh kelompok lobi tradisional dengan mengedepankan solusi diplomatik serta pendekatan kemanusiaan di kawasan tersebut.

(Fajar Nugraha)