Kualitas Udara Penajam dan Sepaku Kaltim Berbahaya

Kualitas udara di wilayah Kecamatan Sepaku deliniasi IKN (MI.Ervan Masbanjar)

Kualitas Udara Penajam dan Sepaku Kaltim Berbahaya

Media Indonesia • 27 October 2026 11:32

Penajam: Kualitas udara di Kecamatan Penajam dan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, masuk kategori berbahaya untuk parameter partikel debu PM10 berdasarkan hasil pengukuran pada pukul 08.00-09.00 Wita. Sepaku merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN).

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, Lukasiwan Eddy Saputro, menyampaikan kondisi tersebut berdasarkan laporan analisis dan rekomendasi Tim Tanggap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Dinkes PPU pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Laporan tersebut memuat hasil pengukuran kualitas udara untuk parameter PM2,5 dan PM10 di empat kecamatan, yakni Penajam, Waru, Babulu, dan Sepaku. Data pengukuran mencakup konsentrasi polutan di dalam ruangan (indoor) dan luar ruangan (outdoor).

Di Kecamatan Penajam, konsentrasi PM2,5 tercatat sebesar 174,67 mikrogram per meter kubik (mcg/m³) di dalam ruangan dan 168 mcg/m³ di luar ruangan. Kedua angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.

Sementara itu, konsentrasi PM10 di Penajam mencapai 532,33 mcg/m³ di dalam ruangan dan 537,67 mcg/m³ di luar ruangan. Kedua hasil pengukuran tersebut masuk kategori berbahaya dan menjadi angka tertinggi di antara empat kecamatan yang dipantau.

“Sementara pada PM 10 Indoor: 532,33 mcg/m³ kualitas udara di Penajam masuk kategori berbahaya serta PM 10 Outdoor 537,67 mcg/m³ berkategori berbahaya. Angka ini merupakan tertinggi se-kabupaten,” kata Eddy, Selasa, 27 Oktober 2026.
 


Kondisi serupa ditemukan di Kecamatan Sepaku. Konsentrasi PM2,5 tercatat sebesar 101,67 mcg/m³ di dalam ruangan dan 106,33 mcg/m³ di luar ruangan. Keduanya masuk kategori tidak sehat.

Adapun konsentrasi PM10 di Sepaku mencapai 381,33 mcg/m³ di dalam ruangan dan 405 mcg/m³ di luar ruangan. Kedua hasil pengukuran itu termasuk kategori berbahaya.

Di Kecamatan Waru, konsentrasi PM2,5 tercatat sebesar 39 mcg/m³ di dalam ruangan, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Sementara itu, pengukuran di luar ruangan mencapai 82 mcg/m³ dan masuk kategori tidak sehat.

Untuk parameter PM10, konsentrasi di dalam ruangan tercatat sebesar 90 mcg/m³ atau kategori sedang. Adapun konsentrasi di luar ruangan mencapai 147 mcg/m³, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Sementara itu, di Kecamatan Babulu, konsentrasi PM2,5 mencapai 33,33 mcg/m³ di dalam ruangan atau kategori sedang. Pengukuran di luar ruangan menunjukkan angka 73,33 mcg/m³, yang masuk kategori tidak sehat.



Asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. (Metro TV/ Akhmaddiannor)


Pada parameter PM10, konsentrasi di Babulu tercatat sebesar 113,67 mcg/m³ di dalam ruangan, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Adapun pengukuran di luar ruangan mencapai 231,67 mcg/m³ atau kategori tidak sehat.

Lukasiwan menyebut rata-rata konsentrasi polutan di empat kecamatan tersebut menunjukkan kondisi kualitas udara yang mengkhawatirkan.

“Secara keseluruhan, rata-rata konsentrasi di empat kecamatan menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, dengan PM 2,5 Indoor rata-rata 87,17 mcg/m³ dan Outdoor 107,42 mcg/m³ serta PM 10 Indoor rata-rata 279,33 mcg/m³ dan Outdoor mencapai 330,33 mcg/m³,” tutur Lukas.

Menyikapi kondisi tersebut, Tim Tanggap Karhutla Dinkes PPU mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Warga juga disarankan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah.

Masyarakat diminta menutup pintu dan jendela rumah saat kualitas udara di luar menurun. Ventilasi dapat ditingkatkan ketika kondisi udara mulai membaik.

Selain itu, warga diimbau tidak membakar sampah serta menjaga kebersihan rumah dengan metode pembersihan basah untuk meminimalkan debu.

“Kami juga meminta masyarakat ikut melakukan pemantauan ulang secara berkala untuk mengetahui dinamika perubahan kualitas udara, guna mengantisipasi terkena dampak dari asap karhutla,” kata Lukas. (Ervan Masbanjar)

(Whisnu M)