Skor Ketahanan Individu Indonesia 4,37, Lampaui Rata-Rata Global

Direktur PT Zurich Indonesia Musi Samosir. Foto: Dok Zurich

Skor Ketahanan Individu Indonesia 4,37, Lampaui Rata-Rata Global

Eko Nordiansyah • 4 November 2026 10:39

Jakarta: Tingkat ketahanan individu (resilience) masyarakat Indonesia mencatatkan skor 4,37 dari skala 5. Capaian tersebut melampaui rata-rata global yang berada di angka 4,11 dan hanya terpaut 0,01 poin dari negara dengan skor tertinggi dalam survei.

Temuan tersebut berdasarkan studi global The Resilient Workforce yang dilakukan Zurich bersama University of Oxford. Studi ini melibatkan lebih dari 11 ribu responden di 16 negara, termasuk Indonesia.

Direktur PT Zurich Indonesia Musi Samosir mengatakan, skor ketahanan Indonesia berada di atas rata-rata global pada lima dimensi yang diukur, yakni fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital.

Meski demikian, skor tersebut tidak berarti masyarakat Indonesia selalu berada dalam kondisi baik-baik saja. Menurut Musi, capaian itu menunjukkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi tantangan dan melewati masa perubahan yang signifikan dengan hasil positif.

"Artinya di Indonesia itu tidak berarti kita selalu baik-baik saja, tapi kita di Indonesia dibandingkan dengan global, rata-rata global berdasarkan studi ini, kita lebih punya kemampuan untuk melalui tantangan atau masa-masa perubahan yang signifikan dan kemudian bisa kembali stabil dengan overall outcome yang positif," ujar Musi saat konferensi pers Zurich Asuransi Indonesia di Jakarta, Selasa, 3 November 2026.



(Ilustrasi. Foto: Freepik)

4 faktor membangun ketahanan masyarakat Indonesia

Studi ini juga mengidentifikasi empat faktor yang perlu mendapat perhatian dalam membangun ketahanan masyarakat Indonesia, yaitu kondisi finansial, penggunaan teknologi digital, pengasuhan (caregiving), dan kualitas tidur.

Dari aspek finansial, sebanyak 34 persen responden di Indonesia belum memiliki dana cadangan yang cukup. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan rata-rata global yang mencapai 49 persen.

Sementara itu, aspek pengasuhan juga menjadi salah satu faktor yang menonjol. Sebanyak 73 persen responden Indonesia terlibat dalam aktivitas caregiving, seperti mengasuh anak hingga memberikan perawatan dan dukungan fisik maupun finansial kepada orang tua atau anggota keluarga.

“Bentuknya misalnya mengasuh anak atau memberikan perawatan dan dukungan baik itu fisik maupun finansial kepada orang tua atau keluarga. Jadi itu caregiving. Indonesia itu punya proporsi caregiving yang lebih tinggi dibandingkan global, 73 persen,” ungkap Musi.

Pada aspek digital, lebih dari separuh responden Indonesia dilaporkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) setiap hari. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 32 persen.

“Artinya dibandingkan sama global itu cuma sekitar 32 persen. Artinya apa? Artinya masyarakat Indonesia itu lebih merespons positif perubahan di area digital dan teknologi. Jadi kan literasi internet kita tinggi, media sosial kita juga tinggi dan ini penggunaan AI juga kita termasuk tinggi dibandingkan sama rata-rata global,” kata dia.

Selain kondisi finansial, pengasuhan, dan penggunaan teknologi, kualitas tidur juga menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan individu. Musi menjelaskan, kualitas tidur turut mendukung lima dimensi resilience yang diukur dalam studi tersebut.

“Jadi physical, psychological, social, digital, dan financial itu didukung oleh fondasi dari kualitas tidur sebetulnya. Itu sesuatu yang sangat sederhana. Dan juga kita sebetulnya sudah tahu kalau tidur itu penting,” ujarnya.

Musi menjelaskan, resilience tidak sekadar menggambarkan kondisi seseorang yang selalu sehat atau terbebas dari masalah. Ketahanan lebih berkaitan dengan kemampuan individu untuk menghadapi tekanan, beradaptasi dengan perubahan, dan memulihkan kondisi setelah melewati situasi sulit. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Eko Nordiansyah)