Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia. Foto: Anadolu.
Berapa Biaya Melewati Selat Hormuz?
Ade Hapsari Lestarini • 30 March 2026 15:17
Teheran: Iran berupaya membangun sistem jalur pelayaran baru yang disetujui untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Hal ini seiring pengetatan kontrol atas salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mendesak Teheran untuk membuka kembali selat tersebut, yang dilalui sekitar 20 persen ekspor minyak dunia, setelah Iran membatasi pelayaran pada awal konflik dengan AS dan Israel.
Kementerian Luar Negeri Teheran mengatakan, kapal-kapal "non-musuh" tetap dapat melintas melalui koordinasi dengan otoritas setempat. Sementara kapal dari AS, Israel, atau pihak yang dianggap terlibat dalam konflik tidak diizinkan.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan Iran akan memberlakukan tatanan baru di Selat Hormuz pascakonflik sebagai bentuk kedaulatan, meskipun sebagian pihak menganggap wilayah tersebut sebagai perairan internasional.
"Di masa depan, kami berupaya untuk membangun pengaturan baru untuk jalur pelayaran yang aman," kata Araghchi kepada televisi pemerintah, dilansir Financial Times, Senin, 30 Maret 2026.

Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia. Foto: Anadolu.
Akses dan biaya melintasi Selat Hormuz
Pernyataan tersebut memicu pertanyaan mengenai akses dan biaya melintasi jalur strategis tersebut bagi perusahaan pelayaran global.
Selat Hormuz, yang lebarnya sekitar 21 mil laut di titik tersempit, terbagi antara perairan Iran dan Oman. Kondisi geografisnya membuat jalur ini mudah diawasi, termasuk oleh Korps Garda Revolusi Iran.
Sebelum konflik, sekitar 135 kapal melintas setiap hari. Namun sejak meningkatnya ketegangan, lalu lintas turun drastis. Data S&P Global mencatat hanya 116 kapal melintas pada periode 1-25 Maret, turun 97 persen dibanding Februari.
Kapal yang masih beroperasi didominasi oleh pemilik dari Tiongkok, India, dan negara Teluk. Sebagian di antaranya merupakan kapal yang terkena sanksi Barat karena mengangkut minyak Iran.
Sejumlah kapal dilaporkan membayar hingga USD2 juta atau sekitar Rp31 miliar untuk menjamin keamanan saat melintasi selat tersebut, menurut Lloyd’s List Intelligence dan sumber industri pelayaran.
Anggota senior parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi menyebut biaya tersebut sebagai bagian dari skema baru pengaturan jalur pelayaran. “Rezim baru sedang diterapkan di jalur air tersebut,” ujar dia.
Proses persetujuan dilakukan melalui koordinasi antar pemerintah dengan Iran melalui kedutaan besar. Setelah disetujui, kapal akan menerima kode khusus yang disiarkan melalui frekuensi radio internasional saat mendekati selat.
Otoritas Iran juga memverifikasi dokumen kapal, termasuk tujuan kargo dan kewarganegaraan awak.
Data pelacakan menunjukkan tidak ada kargo yang menuju AS dan Eropa sejak konflik berlangsung. Sebagian besar pengiriman dialihkan ke Asia Timur, serta sebagian ke Afrika Timur dan Amerika Selatan.
Rute pelayaran saat ini berada dalam pengawasan ketat Iran, memungkinkan verifikasi langsung terhadap kapal yang melintas meskipun infrastruktur pengawasan sempat terdampak serangan.