Dolar AS. Foto: Marketplace.org
Dolar AS Menguat setelah Inflasi Dorong Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed
Husen Miftahudin • 12 September 2026 10:46
New York: Indeks dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Jumat setelah data inflasi konsumen meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Namun, sepanjang pekan, dolar relatif stabil karena pelaku pasar lebih mencermati imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan yen Jepang.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 12 September 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,1 persen menjadi 99,13. Pelaku pasar valuta asing mencermati laporan indeks harga konsumen (CPI) AS yang dirilis pada Jumat.
Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI utama dan CPI inti masing-masing meningkat 0,4 persen dan 0,3 persen secara bulanan pada Agustus. Angka tersebut dibandingkan dengan perkiraan konsensus masing-masing 0,4 persen dan 0,2 persen.
Kenaikan tersebut juga lebih cepat dibandingkan Juli yang masing-masing tercatat 0,1 persen dan 0,2 persen. Secara tahunan, CPI utama naik 3,4 persen pada Agustus, sama seperti Juli.
Sementara itu, CPI inti melambat menjadi 2,4 persen dari 2,5 persen. Kedua angka tersebut sesuai dengan perkiraan konsensus. Data CPI memperkuat kemungkinan Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan depan.
Menurut CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga seperempat poin melonjak menjadi hampir 87 persen setelah data inflasi dirilis, dari sekitar 69 persen sebelumnya. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung memberikan dukungan terhadap dolar AS.
PCE tetap jadi acuan inflasi Fed
Meski CPI dan indeks harga produsen (PPI) menjadi perhatian pasar, FOMC menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebagai indikator inflasi pilihan. Komponen CPI dan PPI menjadi salah satu masukan dalam perhitungan PCE. Indikator tersebut telah berada di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar 2 persen selama 65 bulan berturut-turut.
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat mulai menguat sejak Juli. Tiga presiden bank sentral regional AS saat itu tidak setuju dengan keputusan FOMC mempertahankan suku bunga.
Ketua The Fed Kevin Warsh kemudian menyampaikan pandangan yang lebih agresif dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada akhir Agustus. Ia menilai tren inflasi yang mendasari belum menunjukkan perbaikan.
Indikator ekonomi lainnya turut memperkuat ekspektasi tersebut. Data nonfarm payrolls yang kuat pada pekan sebelumnya dan laporan PPI Agustus yang dirilis Kamis menunjukkan adanya percepatan pada sejumlah indikator harga.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik AS dan Iran juga menambah kekhawatiran terhadap inflasi. Lonjakan harga energi memberikan tekanan kepada masyarakat AS di stasiun pengisian bahan bakar.
Harga rata-rata diesel AS bahkan menembus USD6 per galon untuk pertama kalinya pada Kamis. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pada 16 September.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Imbal hasil obligasi AS terus naik
Pasar obligasi AS juga mencerminkan meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Obligasi, terutama tenor panjang, mengalami tekanan sejak keputusan suku bunga The Fed pada Juli.
Kenaikan imbal hasil kemudian membawa imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun ke level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Pada Jumat setelah data CPI dirilis, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 3,2 basis poin menjadi 4,976 persen. Sementara itu, imbal hasil tenor dua tahun yang lebih sensitif terhadap kebijakan suku bunga naik 8,8 basis poin menjadi 4,638 persen.
Di pasar valuta asing, yen Jepang masih menjadi perhatian utama. Yen menguat terhadap dolar AS pada Jumat dan diperkirakan mencatatkan kenaikan mingguan selama dua pekan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak awal Mei.
Pasangan USD/JPY turun 0,5 persen menjadi 153,72 dan telah melemah 1,6 persen sepanjang pekan. Penguatan yen mencerminkan meningkatnya keyakinan pasar terhadap kemungkinan Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda dan Dewan Gubernur menaikkan suku bunga pada 18 September.
Data Jepang pada Jumat menunjukkan Indeks Harga Barang Korporasi (CGPI) melonjak 7,6 persen secara tahunan pada Agustus. Angka tersebut melampaui perkiraan konsensus 7,4 persen dan menunjukkan tekanan dari kenaikan biaya impor terhadap inflasi domestik.
Sementara itu, euro menuju penurunan mingguan setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga kebijakan utama sebesar 25 basis poin pada Kamis. Euro terakhir turun 0,1 persen menjadi USD1,1597 dan telah melemah 0,2 persen sepanjang pekan.
ECB menyebut tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah menjadi salah satu pertimbangan kebijakan.
Dalam pernyataannya, ECB memperingatkan konflik tersebut terus "menimbulkan tekanan inflasi". Bank sentral juga memperkirakan inflasi akan berada jauh di atas target 2 persen "untuk jangka waktu yang panjang."