Rupiah Sore ke Level Rp17.706/USD

Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Eko Nordiansyah.

Rupiah Sore ke Level Rp17.706/USD

Ade Hapsari Lestarini • 19 May 2026 17:30

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini turun 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per USD dari sebelumnya Rp17.668 per USD. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.719 per USD dari sebelumnya Rp17.666 per USD.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai turunnya rupiah seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas USD100 per barel.

"Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) akan diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi yang membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas USD100," ujar dia dilansir Antara, Selasa, 19 Mei 2026.

Mengutip Anadolu, stok minyak komersial menurun dengan cepat seiring persediaan yang tersisa hanya untuk sejumlah pekan akibat dampak konflik di Timur Tengah. Pelepasan cadangan strategis yang diputuskan pada Maret 2026 telah menyediakan 2,5 juta barel per hari, tetapi cadangan tersebut tetap terbatas.


Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
 

 

Persediaan minyak global


Peningkatan kehilangan pasokan dari Selat Hormuz mengurangi persediaan minyak global dengan cepat, dan volatilitas harga lebih lanjut berpotensi terjadi. RDG BI diperkirakan akan memutuskan kenaikan suku bunga acuan 25 basis points (bps) menjadi lima persen.

"Dengan asumsi kurs di APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) Rp16.500, maka tambahan subsidi Rp150 triliun dengan kurs yang terus meningkat dan tidak ada kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) subsidi,” kata Rully.

Adapun sentimen lainnya berasal dari tren kenaikan ekspektasi inflasi dan yield obligasi pemerintah AS yang masih terus berlanjut.

Kenaikan ekspektasi inflasi AS ini meningkatkan tingkat imbal hasil atau yield obligasi AS. Tercatat, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor dua tahun di 4,105 persen, 10 tahun di 4,631 persen, dan 30 tahun di 5,159 persen. Peningkatan ini menjadi level tertinggi baru untuk 2026.

"Pelemahan rupiah selain karena kebutuhan dolar musiman, saat ini juga dipengaruhi oleh minat pelaku pasar asing yang menurun terhadap obligasi pemerintah sejalan dengan selisih yield yang menipis dibanding dengan obligasi pemerintah AS," ungkap dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)