RI-Belarus Sepakat Kerja Sama di Sektor Kesehatan, Termasuk Farmasi

Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan balasan Presiden Belarus Alexandr Lukashenko. Foto: Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.

RI-Belarus Sepakat Kerja Sama di Sektor Kesehatan, Termasuk Farmasi

Gabriella Thesa Widiari • 2 July 2026 13:16

Jakarta: Pemerintah Indonesia dan Republik Belarus sepakat untuk memperkuat kerja sama bilateral di sektor kesehatan. Komitmen itu diresmikan melalui penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) yang disaksikan langsung oleh presiden kedua negara di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.

"Kita sepakat untuk membahas secara mendalam dua topik utama pada pertemuan hari ini, yaitu pendidikan kedokteran dan kerja sama di bidang farmasi," kata Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis, 2 Juli 2026.
 


Dalam hal pendidikan dan peningkatan kapasitas tenaga medis, Indonesia sedang menjajaki program fellowship. Program ini berfokus pada penanganan kardiologi (jantung), onkologi (kanker), neurologi dan stroke, urologi, nefrologi, serta kesehatan ibu dan anak. Terkait hal tersebut, Kemenkes RI akan segera mengambil langkah proaktif untuk merealisasikan pertukaran keahlian.

“Kami akan mengirimkan delegasi ke Belarus untuk mengevaluasi program-program di sana, serta mendatangkan para dokter dari Belarus ke Indonesia untuk memberikan pelatihan kepada dokter-dokter kami,” ujar Dante.

Penguatan sektor farmasi menjadi prioritas. Pemerintah membidik perluasan akses dan distribusi alat medis melalui potensi kolaborasi antara perusahaan farmasi Belarus, Belpharmprom, dengan industri manufaktur Indonesia.

“Besok pagi, perusahaan-perusahaan farmasi dari Indonesia akan mengadakan pertemuan dengan rekan-rekan mereka. Kementerian Kesehatan mendukung penuh pengembangan ini dan akan menjembatani koordinasi dengan perusahaan-perusahaan farmasi dari Belarus,” kata Dante.


Ilustrasi farmasi. Foto: dok. Medcom.

Sebagai wujud nyata komitmen peningkatan kualitas layanan kesehatan di dalam negeri, delegasi Belarus juga diajak meninjau fasilitas RS PON. Kunjungan ini merupakan representasi dari pilar transformasi sistem kesehatan nasional yang tengah digenjot oleh Indonesia. RS PON terus memperluas kapasitasnya untuk menyediakan layanan saraf dan otak komprehensif, mulai dari pembedahan hingga rehabilitasi, baik bagi pasien lokal maupun internasional.

Sebagai instrumen operasional dari kesepakatan tingkat tinggi ini, Indonesia dan Belarus telah menyusun Operational Road Map 2026–2030. Peta jalan ini disusun agar implementasi berbagai program kerja sama dapat segera berjalan secara terukur dan memberikan manfaat nyata bagi ketahanan kesehatan masyarakat di kedua negara. 

(Gabriella Thesa Widiari)