Ilustrasi freepik
Cegah Burnout pada Anak, Orang Tua Perlu Mengelola Ekspektasi
Putri Purnama Sari • 14 July 2026 08:49
Jakarta: Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental anak, termasuk di lingkungan pendidikan. Di balik sederet prestasi akademik dan aktivitas yang padat, tidak sedikit anak yang mengalami tekanan hingga kehilangan semangat belajar atau mengalami academic burnout.
Menurut Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai rasa lelah biasa. Burnout merupakan respons tubuh dan otak terhadap tekanan yang berlangsung dalam waktu lama.
"Saat ini kita semakin sering menemukan anak-anak yang tampak cerdas, aktif mengikuti berbagai kegiatan, tetapi justru kehilangan semangat belajar, mudah menangis, cepat marah, sulit tidur, bahkan merasa kosong. Kondisi ini dapat mengarah pada academic burnout," ujar Efnie kepada Metrotvnews.com, Selasa, 14 Juli 2026.
Burnout Bukan Sekadar Lelah

Ilustrasi freepik
Efnie menjelaskan, dari sudut pandang bio-neuropsikologi, burnout terjadi ketika sistem pengatur stres di dalam tubuh terus bekerja akibat tekanan yang berkepanjangan.
Tuntutan akademik, jadwal les yang padat, kompetisi, hingga ekspektasi tinggi dari lingkungan dapat membuat kadar hormon stres tetap tinggi apabila tidak diimbangi dengan waktu istirahat yang cukup.
Akibatnya, fungsi prefrontal cortex, yaitu bagian otak yang berperan dalam kemampuan berpikir, mengambil keputusan, mengendalikan emosi, dan berkonsentrasi, dapat mengalami penurunan.
Kondisi tersebut membuat anak lebih sulit fokus saat belajar, daya ingat menurun, motivasi belajar berkurang, hingga lebih lambat mengambil keputusan.
"Ironisnya, semakin dipaksa berprestasi dalam kondisi seperti ini, performa anak justru sering semakin menurun," lanjutnya.
Baca Juga :
Gernas RANA Resmi Diluncurkan, Pemerintah Perkuat Perlindungan Anak di Satuan Pendidikan
Peran Orang Tua dalam Mengelola Ekspektasi
Efnie menilai orang tua memiliki peran penting dalam mencegah burnout pada anak. Menurutnya, perhatian orang tua tidak seharusnya hanya berfokus pada hasil belajar atau nilai akademik.
"Anak membutuhkan orang tua yang bukan hanya bertanya, 'Nilainya berapa?', tetapi juga bertanya, 'Bagaimana perasaanmu hari ini?'," kata Efnie.
Ia menekankan bahwa prestasi memang penting, tetapi kesehatan otak dan kesehatan mental merupakan fondasi agar anak mampu mempertahankan prestasi dalam jangka panjang.
Karena itu, orang tua perlu membangun ekspektasi yang sehat, yaitu dengan menyesuaikan target sesuai tahap perkembangan, kapasitas biologis, dan kondisi psikologis masing-masing anak.
Setiap Anak Memiliki Proses Belajar yang Berbeda

Ilustrasi freepik
Efnie menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda, baik dari sisi kemampuan berpikir, regulasi emosi, maupun gaya belajar.
Oleh karena itu, membandingkan anak dengan teman sebaya atau memaksakan target yang sama justru dapat menambah tekanan dan menghambat proses belajarnya.
Menurutnya, tujuan pendidikan bukan semata-mata mencetak anak yang selalu menjadi juara, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental dan mampu menghadapi tantangan.
"Tujuan pendidikan bukan menciptakan anak yang selalu menjadi nomor satu, tetapi membentuk anak yang memiliki otak yang sehat, emosi yang stabil, rasa ingin tahu yang tetap hidup, dan kemampuan bangkit ketika menghadapi kegagalan," ungkapnya.
Prestasi Perlu Diimbangi Dukungan Emosional
Efnie menambahkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tekanan mungkin mampu meraih prestasi dalam waktu singkat. Namun, keberhasilan tersebut belum tentu dapat dipertahankan apabila tidak dibarengi dengan kondisi mental yang sehat.
Sebaliknya, anak yang tumbuh dengan rasa aman, dukungan emosional, dan hubungan yang hangat bersama orang tua memiliki peluang lebih besar untuk menikmati proses belajar sekaligus mempertahankan prestasinya dalam jangka panjang.
"Anak yang tumbuh dengan tekanan mungkin mampu meraih prestasi sesaat. Namun anak yang tumbuh dengan rasa aman, dukungan, dan hubungan yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan prestasi sekaligus menikmati proses belajarnya sepanjang kehidupan," tambahnya.
Dengan demikian, Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak tidak hanya diukur dari nilai rapor atau banyaknya prestasi, tetapi juga dari kesehatan mental, kebahagiaan, dan kesempatan mereka untuk tumbuh sesuai potensi yang dimiliki.