Sudah Jangkau 40 Negara, Sulawesifood Bawa Bumbu Instan Autentik Sulawesi ke JJN Season 5

Founder Sulawesi Food, dok: Metro TV

Sudah Jangkau 40 Negara, Sulawesifood Bawa Bumbu Instan Autentik Sulawesi ke JJN Season 5

Putri Purnama Sari • 12 July 2026 18:03

Jakarta: Kerinduan terhadap cita rasa kampung halaman menjadi awal lahirnya Sulawesifood, sebuah usaha bumbu instan autentik khas Sulawesi yang didirikan oleh Nurul Fatimah Hadiyanti. 

Berbekal resep racikan sendiri, produk ini menghadirkan berbagai bumbu khas Sulawesi Selatan yang praktis digunakan dan mampu bertahan hingga satu tahun di suhu ruang tanpa bahan pengawet.

Dalam ajang Juragan Jaman Now Season 5, Nurul memperkenalkan Sulawesifood sebagai solusi bagi masyarakat yang ingin memasak hidangan khas Sulawesi dengan mudah di mana saja.

Saat ini, Sulawesifood telah memiliki tujuh varian bumbu khas Sulawesi Selatan, seperti Coto Makassar, Sop Konro, hingga Pallubasa.

Produk tersebut diklaim mampu bertahan hingga satu tahun di suhu ruang tanpa menggunakan bahan pengawet. Menurut Nurul, satu bungkus bumbu berukuran 250 gram cukup digunakan untuk mengolah sekitar satu kilogram daging atau dua liter air sehingga lebih praktis bagi konsumen.

"Saat ini kami sudah menghadirkan seri Sulawesi Selatan dengan tujuh varian, yang sudah dibawa ke 40 negara oleh para diaspora maupun pecinta kuliner Sulawesi," kata Nurul dalam tayangan Juragan Jaman Now Season 5 Metro TV, yang dikutip Minggu, 12 Juli 2026.

Target Produksi 10 Ribu Bungkus

Nurul melihat peluang pasar bumbu instan khas Sulawesi masih sangat terbuka. Menurutnya, sebagian besar produk bumbu instan yang beredar di pasaran masih berfokus pada masakan populer, sementara kuliner khas Sulawesi belum banyak dikembangkan.

Pada 2026, Sulawesifood menargetkan produksi hampir 10 ribu bungkus dengan proyeksi omzet mencapai Rp500 juta hanya dari seri Sulawesi Selatan.

Untuk mempercepat ekspansi bisnis, Nurul menawarkan dua skema investasi. Opsi pertama berupa investasi proyek senilai Rp450 juta guna mengembangkan seri bumbu khas Sulawesi lainnya. Sementara opsi kedua adalah investasi Rp1 miliar untuk pembangunan rumah produksi dengan imbal hasil berupa kepemilikan saham sebesar 20 persen.

Cita Rasa Sulawesifood Dipuji Panelis


Bumbu instan Sulawesifood, dok: Metro TV

Bumbu instan Sulawesifood mendapat apresiasi dari para panelis. Reino Barack mengaku terkesan dengan cita rasa produk tersebut meski dirinya bukan berasal dari Makassar.

"Oh, saya bukan orang Makassar saja bilang enak. Bagaimana orang Makassar? Enak sekali," kata Reino.

Sementara itu, Rex Marindo mengungkapkan pengalaman unik saat mencicipi hidangan yang dibuat menggunakan bumbu Sulawesifood. Menurutnya, rasa makanan tersebut membuatnya ingin terus menambah porsi.

"Saya merasa ini ada masalah sih di produk ini. Masalah paling besarnya itu, saya harus nambah lagi. Sudah dua kali ini nambahnya," ujar Rex.

Selain membahas cita rasa, Rex juga menggali model bisnis Sulawesifood, mulai dari margin keuntungan, harga jual produk, hingga kapasitas sajian setiap kemasan. Nurul menjelaskan harga produknya berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp59.500, dengan varian Coto Makassar sebagai produk terlaris.

Penjualan Masih Didominasi Online

Nurul mengatakan sekitar 90 persen penjualan Sulawesifood masih berasal dari kanal digital seperti marketplace dan WhatsApp. Hingga kini, perusahaan juga masih berfokus pada penjualan langsung ke konsumen (B2C) dan belum bekerja sama dengan mitra B2B.

Mentor Peter Shearer menambahkan, pencapaian Sulawesifood di media sosial juga cukup menarik karena seluruh pertumbuhan akun dilakukan secara organik tanpa strategi pemasaran berbayar.
 

Ingin Tingkatkan Kapasitas Produksi

Di balik pertumbuhan bisnisnya, Sulawesifood masih menghadapi tantangan pada proses produksi. Nurul menjelaskan produknya memang tidak menggunakan bahan pengawet, melainkan mengandalkan teknik sterilisasi agar mampu bertahan hingga satu tahun di suhu ruang.

Namun, proses tersebut masih dilakukan menggunakan peralatan sederhana sehingga tingkat kegagalan produksi masih cukup tinggi. Karena itu, salah satu tujuan mencari investor adalah untuk meningkatkan kapasitas rumah produksi sekaligus memperbarui peralatan agar proses produksi menjadi lebih efisien dan kualitas produk tetap konsisten.

(Putri Purnama Sari)