Hantavirus Ancaman Serius, Simak Daftar Penyakit Zoonosis di Indonesia

Ilustrasi Pexels

Hantavirus Ancaman Serius, Simak Daftar Penyakit Zoonosis di Indonesia

Muhamad Marup • 5 May 2026 21:07

Jakarta: Hantavirus jangan sampai dianggap remeh usai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Senin, 3 Mei 2026, menemukan tiga penumpang kapal pesiar tewas akibat virus tersebut. Hantavirus yang berasal dari hewan pengerat, terutama tikus itu memiliki tingkat kematian yang tinggi.

Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, menjelaskan, Hantavirus merupakan ancaman serius. Secara klinis, kematian atau fatalitasnya mencapai 40% atau 4 dari 10 pasien akan meninggal.

"Nah apakah hantap virus ancaman serius? Secara klinis ya, karena kematiannya atau fatalitasnya bisa sampai 40%," ujar Dicky, kepada Metrotvnews.com, Selasa, 5 Mei 2026.

Ia menambahkan, secara onset atau waktu permulaan munculnya gejala penyakit atau dimulainya suatu kondisi medis, Hantavirus juga relatif cepat. Meski begitu, Hantavirus tidak memiliki potensi pandemi seprti Covid-19 atau influenza karena transmisinya antara hewan ke manusia.

"Sehingga meskipun memilih dampak yang tinggi dalam konteks fatalitas mobilitasnya tapi penyebaran penyakit ini sangat rendah atau kecil," ucapnya.

Daftar Penyakit Zoonosis di Indonesia

Di Indonesia sendiri terdapat penyakit-penyakit yang mesti jadi perhatian. Penyakit tersebut memiliki dampak signifikan bagi kesehatan, termasuk kematian.

Mengutip laman Universitas Airlangga, berikut ini beberapa penyakit di Indonesia beserta penjelasannya.

Rabies
Rabies atau yang dikenal juga dengan istilah penyakit anjing gila merupakan infeksi virus pada otak dan sistem syaraf. Penyakit itu tergolong sangat berbahaya karena berpotensi besar menyebabkan kematian.

Penyebab rabies adalah virus bernama RNA dan genus Lyssavirus, famili Rhabdoviridae, yaitu virus yang berbentuk seperti peluru bersifat neurotropis, menular dan ganas. Virus tersebut bersarang pada air liur hewan yang telah terinfeksi.

Hewan yang telah terinfeksi dapat menyebarkan virus dengan menggigit hewan lain atau manusia. Pada umumnya, virus rabies ditemukan di hewan liar.

Beberapa hewan liar yang menyebarkan virus tersebut adalah sigung, rakun, kelelawar, dan rubah. Namun, di beberapa negara, masih banyak binatang peliharaan yang rupanya membawa virus tersebut, termasuk kucing dan anjing. 

Potensi terjangkit rabies juga berlaku pada manusia. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan, setiap tahun rabies menyebabkan sekitar 59.000 kematian.

Ilustrasi Pexels

Flu burung
Flu burung, atau yang dikenal juga sebagai avian influenza, adalah salah satu jenis infeksi virus yang umumnya ditemukan pada unggas. Namun, virus yang menyebabkan flu burung dapat bermutasi dan menyebar ke manusia.

Apabila manusia terinfeksi virus flu burung, gejala yang tampak akan bervariasi, mulai dari yang ringan hingga parah dan berpotensi membahayakan nyawa. Penularan ini biasanya terjadi akibat adanya kontak dengan burung yang terinfeksi virus atau proses memasak unggas yang kurang matang.

Penyakit ini tidak dapat ditularkan antarmanusia, tapi para ahli mengkhawatirkan adanya kemungkinan virus flu burung dapat bermutasi lagi dan bisa tersebar dengan mudah ke sesama manusia. 

Tercatat sejak tahun 2003, Indonesia merupakan negara dengan jumlah korban terbanyak akibat wabah flu burung. Status Kondisi Luar Biasa atau KLB untuk flu burung kerap ditetapkan oleh pemerintah.

Penyakit ini tidak bisa dianggap sepele. Dalam kasus penularan flu burung terhadap manusia di Indonesia, hampir 80 persen berakhir dengan kematian.

Ilustrasi Pexels

Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira Interrogans. Penyebarannya melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini.

Beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa Leptospirosis adalah anjing, hewan pengerat seperti tikus, dan kelompok hewan ternak seperti sapi atau babi.

Hewan penular Leptospirosis paling banyak di Indonesia saat terjadi banjir adalah tikus. Hewan-hewan pengerat ini turut menyelamatkan diri saat banjir tiba, namun ia meninggalkan kotoran dan air kencingnya yang kemudian bercampur dengan air banjir. 

Leptospirosis biasanya menyebabkan gejala mirip flu ringan, seperti sakit kepala dan kedinginan. Biasanya, penderita mulai menunjukkan tanda-tanda terinfeksi dalam 2 minggu, meski dalam beberapa kasus, gejala mungkin muncul selama sebulan atau bahkan tidak ada gejala sama sekali.

Namun, gejala yang dirasakan akan lebih parah jika bakteri menginfeksi beberapa organ tertentu seperti hati, ginjal, paru-paru, jantung dan otak. Penyakit terparah yang ditimbulkan oleh bakteri leptospira ini adalah Weil, yaitu jenis infeksi bakteri yang menyebabkan kegagalan organ hingga berujung kematian.

Brucellosis
Brucellosis adalah penyakit yang dapat menginfeksi manusia dan hewan, disebabkan oleh bakteri Brucella. Penyakit Brucellosis ditemukan di seluruh dunia dengan 500.000 kasus.

Infeksi Brucellosis pada hewan umumnya menyerang kambing, domba, rusa, babi, sapi, anjing dan unta karena hewan tidak divaksinasi dan memiliki lingkungan yang kotor. Brucellosis pada manusia umumnya terjadi dari kontak langsung dengan hewan atau mengonsumsi produk hewani, daging mentah yang terkontaminasi dan susu yang tidak dipasteurisasi.

Bakteri Brucella juga dapat menular dari udara dan kontak dengan luka terbuka. Brucellosis di manusia pada umumnya endemik di negara-negara berkembang seperti India, Pakistan, Cina, Malaysia, Vietnam, Thailand, Indonesia dan Srilanka. Antraks
Bacillus anthracis adalah bakteri yang menyebabkan Penyakit Antraks itu terjadi. Bakteri ini bisa bertahan berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan tahan terhadap kondisi panas, dingin, kekeringan, dan bahan-bahan kimia anti kuman.

Hewan-hewan yang bisa terkena Penyakit Antraks antara lain yaitu sapi, kambing, domba, kerbau dan babi. Biasanya penyakit ini menular melalui hewan penderita Antraks, media yang sudah tercemar bakteri Antraks seperti tanah dan air, dan bahan pangan yang berasal dari hewan yang terkena Bakteri Antraks 

Gejala yang terjadi pada hewan adalah biasanya hewan akan demam, gelisah, dan mengeluarkan darah dari hidung dan dubur. Jika sudah sangat parah hewan akan mengalami pembengkakan dan mati mendadak.

Pada manusia gejala yang dialami adalah adanya benjolan yang melepuh berwarna biru gelap, adanya reaksi peradangan dari luka, sakit perut, mual, muntah, diare, demam, nyeri otot dan dada, serta dapat terjadi kematian dalam waktu 24 jam.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)