Ilustrasi. Foto: Freepik.
Bitcoin Bertahan di Atas USD78 Ribu, Pasar Cermati Arah Suku Bunga The Fed
Eko Nordiansyah • 27 August 2026 09:41
New York: Harga Bitcoin bergerak terbatas pada Rabu, 26 Agustus 2026, setelah sempat menembus USD80 ribu pada sesi sebelumnya. Investor kembali mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan harga masih bertahan.
Dikutip dari Investing, Kamis, 27 Agustus 2026, harga Bitcoin naik tipis 0,2 persen menjadi USD78.739,7. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih berhati-hati terhadap prospek kebijakan moneter AS menjelang pertemuan The Fed pada September.
Pergerakan Bitcoin saat ini tidak terlepas dari kondisi pasar keuangan AS, terutama perubahan ekspektasi terhadap suku bunga, dolar, dan imbal hasil obligasi pemerintah.
Inflasi AS jadi perhatian investor
Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 0,2 persen secara bulanan pada Juli 2026, setelah turun 0,1 persen pada Juni.Secara tahunan, PCE meningkat 3,7 persen. Angka tersebut tidak berubah dari Juni dan sedikit lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 3,6 persen.
Sementara itu, PCE inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,2 persen secara bulanan dan 3,3 persen secara tahunan. Angka tahunan tersebut juga tidak berubah dari bulan sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan proses penurunan inflasi AS masih berjalan secara bertahap. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi ruang The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Ekspektasi terhadap suku bunga menjadi salah satu faktor penting bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar sekaligus menekan minat terhadap instrumen investasi yang memiliki risiko lebih tinggi.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Bitcoin dan dolar berhadapan dengan arah kebijakan The Fed
Pergerakan Bitcoin dalam beberapa waktu terakhir juga dikaitkan dengan strategi investasi yang disebut debasement trade, yakni pengalihan dana ke aset alternatif ketika investor mengantisipasi pelemahan nilai mata uang akibat tekanan fiskal dan moneter.Dalam kondisi tersebut, Bitcoin dan emas dapat memperoleh perhatian sebagai aset alternatif. Namun, strategi tersebut menghadapi risiko apabila inflasi tetap tinggi dan mendorong The Fed mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Karena itu, data inflasi menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar untuk menentukan arah investasi.
Selain inflasi, perkembangan pasar obligasi AS turut menjadi perhatian. Kekhawatiran mengenai meningkatnya utang pemerintah AS serta kebutuhan pembiayaan investasi infrastruktur teknologi, termasuk AI, sebelumnya memicu volatilitas pada pasar obligasi.
Perubahan imbal hasil Treasury kemudian turut memengaruhi pergerakan dolar dan aset berisiko, termasuk pasar kripto.
Proyeksi bitcoin hingga USD300 ribu
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah analis masih melihat peluang kenaikan Bitcoin dalam beberapa tahun ke depan.Bernstein memperkirakan Bitcoin dapat mencapai sekitar USD125 ribu pada akhir 2026 dan USD150 ribu pada pertengahan 2027. Perusahaan tersebut bahkan memproyeksikan harga Bitcoin dapat mendekati USD300 ribu pada 2029 dalam skenario siklus pasar yang mereka gunakan.
Proyeksi tersebut antara lain didasarkan pada meningkatnya tekanan fiskal dan potensi perubahan kebijakan yang dapat memengaruhi nilai mata uang. Namun, proyeksi tersebut tetap bergantung pada kondisi ekonomi global, kebijakan moneter, arus investasi, serta siklus pasar kripto.
Pergerakan altcoin beragam
Pergerakan aset kripto lainnya menunjukkan hasil yang beragam.Ether naik 2,5 persen menjadi USD2.501,98. Sementara XRP turun 3,1 persen menjadi USD1,3952.
Solana dan BNB masing-masing menguat 0,5 persen dan 1,4 persen. Sebaliknya, Cardano turun 0,8 persen.
Di kelompok memecoin, Dogecoin melemah tipis 0,5 persen, sedangkan $TRUMP menguat 1,5 persen.