Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti
Harga Emas Tertekan, Investor Kembali Cermati Arah Suku Bunga The Fed
Eko Nordiansyah • 27 August 2026 08:45
Chicago: Harga emas melemah pada Rabu, 26 Agustus 2026, setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan data inflasi AS membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dikutip dari Investing, Kamis, 27 Agustus 2026, harga emas spot turun 1,4 persen menjadi USD4.594,36 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka melemah satu persen menjadi USD4.648,26 per ons.
Pergerakan tersebut terjadi setelah data ekonomi AS menunjukkan inflasi masih berada di atas target The Fed, sementara aktivitas ekonomi relatif tetap kuat. Kondisi tersebut mengurangi ekspektasi pelaku pasar terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Ekspektasi suku bunga The Fed berubah
Data ekonomi AS menjadi perhatian utama pasar pada perdagangan Rabu. Berdasarkan data Biro Analisis Ekonomi (BEA), indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti naik 0,2 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli.Secara tahunan, inflasi PCE inti tersebut masih jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar dua persen.
Sementara itu, PCE secara keseluruhan meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 3,7 persen secara tahunan pada Juli. Kenaikan bulanan tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
Data ekonomi lainnya juga menunjukkan perekonomian AS masih relatif kuat. Estimasi kedua BEA mempertahankan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS pada kuartal II-2026 sebesar 1,5 persen.
Di sektor manufaktur, pesanan baru barang tahan lama meningkat 1,1 persen pada Juli, melampaui perkiraan kenaikan sebesar 0,4 persen.
Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan aktivitas ekonomi yang tetap tumbuh membuat pasar memperkirakan The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Hal tersebut tercermin dari CME FedWatch. Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan September meningkat menjadi hampir 64 persen, dari sekitar 60 persen sehari sebelumnya.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Dolar AS tekan harga emas
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter turut berdampak terhadap pergerakan dolar AS. Penguatan mata uang tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan harga emas.Emas umumnya menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang selain dolar ketika nilai tukar dolar menguat. Kondisi tersebut dapat mengurangi daya tarik logam mulia di pasar internasional.
Di sisi lain, emas sebelumnya mendapat dukungan dari strategi investor mencari aset lindung nilai terhadap risiko penurunan nilai mata uang atau debasement trade.
Namun, sentimen tersebut kembali berhadapan dengan perkembangan pasar obligasi AS dan ekspektasi suku bunga. Imbal hasil obligasi menjadi salah satu faktor penting yang turut menentukan daya tarik emas karena emas tidak memberikan imbal hasil berbentuk bunga.
Dengan demikian, arah kebijakan The Fed masih menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan pergerakan emas dalam jangka pendek.
Risiko geopolitik masih jadi penopang
Meski tekanan dari dolar dan ekspektasi suku bunga meningkat, emas masih memiliki faktor pendukung dari sisi geopolitik.Pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik Rusia-Ukraina setelah muncul laporan mengenai kemungkinan peningkatan serangan Rusia terhadap Ukraina. Ketidakpastian tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap relatif aman, termasuk emas.
Di Timur Tengah, pasar juga memantau perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran serta kondisi Selat Hormuz.
RIA Novosti sebelumnya melaporkan kemungkinan kesepakatan gencatan senjata baru antara AS dan Iran. Namun, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Sementara itu, Al Jazeera melaporkan Iran dan Oman telah menyepakati rute sementara yang melintasi Selat Hormuz. Namun, pembukaan kembali jalur tersebut secara penuh masih bergantung pada perkembangan hubungan AS dan Iran.
Perkembangan geopolitik tersebut membuat emas tetap memiliki fungsi sebagai aset lindung nilai. Namun, kekuatan faktor tersebut saat ini harus berhadapan dengan tekanan dari dolar AS dan perubahan ekspektasi suku bunga.
Pasar menanti arah kebijakan The Fed
Pergerakan harga emas selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana pelaku pasar membaca data inflasi dan indikator ekonomi AS terhadap arah kebijakan The Fed.Inflasi yang bertahan di atas target dapat memberikan alasan bagi bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu lebih lama. Sebaliknya, tanda-tanda pelemahan ekonomi atau penurunan inflasi dapat kembali meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan.
Dengan kondisi tersebut, pasar emas kini berada di antara dua kekuatan, yakni permintaan sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global dan tekanan dari penguatan dolar serta ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi.