Harga Emas Tergelincir Imbas Penguatan Dolar AS dan Penurunan Obligasi

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Tergelincir Imbas Penguatan Dolar AS dan Penurunan Obligasi

Eko Nordiansyah • 24 September 2026 08:52

Chicago: Harga emas turun lebih dari satu persen pada Rabu, 23 September 2026, tertekan oleh posisi dolar AS yang berada di level tertinggi dalam hampir dua bulan serta lonjakan harga minyak.

Data ekonomi AS yang kuat dan komentar bernada hawkish dari seorang pembuat kebijakan Federal Reserve mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga. Hal ini memicu aksi jual besar-besaran pada obligasi Treasury. Sementara itu, harapan akan kemajuan diplomatik antara AS dan Iran meredup.

Dikutip dari Investing, Kamis, 24 September 2026, harga emas spot turun 1,6 persen dan ditutup pada level USD4.287,35 per ons. Sedangkan harga emas berjangka turun 1,2 persen dan ditutup pada USD4.322,70 per ons.

Peluang kenaikan suku bunga The Fed

Seminggu setelah The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun dan mengisyaratkan pengetatan lebih lanjut tahun ini, laporan terbaru S&P Global mengenai aktivitas bisnis AS kembali mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga.

Menurut S&P Global, aktivitas bisnis AS meningkat selama empat bulan berturut-turut pada bulan September, mencatatkan laju pertumbuhan tercepat sejak Juli 2021. Kenaikan yang solid pada output sektor jasa maupun manufaktur menjadi penopang utama lonjakan angka tersebut.

Pada saat yang sama, S&P menyatakan bahwa tekanan harga di AS meningkat pada bulan September; rata-rata biaya input untuk barang dan jasa melonjak, dan tingkat inflasi keseluruhan mencapai angka tertinggi sejak Oktober 2022. Biaya bahan bakar dan transportasi yang lebih tinggi menjadi faktor pendorong utamanya.

Kombinasi antara ekonomi yang kuat dan tekanan harga yang meningkat biasanya menandakan bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga.

Alat CME FedWatch mencerminkan hal serupa, di mana probabilitas Federal Open Market Committee (FOMC) akan melakukan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan Oktober meningkat menjadi hampir 69 persen, naik dari sekitar 55 persen pada hari sebelumnya.
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)

Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding assets), seperti emas. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, yang sebelumnya sudah berada di level tinggi menjelang rilis data S&P, kembali naik setelah laporan tersebut keluar.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun melonjak 16,8 basis poin dan ditutup pada level 5,116 persen, angka tertinggi sejak Juli 2007.

Imbal hasil obligasi AS tenor lima tahun melesat 15,5 basis poin dan berakhir di level 4,998 persen, setelah sebelumnya sempat menembus angka lima persen untuk pertama kalinya sejak Juli 2007. Pada sisi jangka panjang kurva imbal hasil, obligasi tenor 30 tahun naik 9,4 basis poin menjadi 5,397 persen, sementara obligasi tenor 2 tahun naik 12 basis poin menjadi 4,897 persen.

Sentimen hawkish semakin menguat menyusul komentar dari Gubernur The Fed Michael Barr, yang juga merupakan anggota dengan hak suara di FOMC. Barr menyatakan risiko terhadap pencapaian target inflasi jangka panjang bank sentral sebesar dua persen telah meningkat, sehingga mengharuskan The Fed untuk melakukan kalibrasi ulang terhadap kebijakan moneter.

Tren penurunan harga minyak

Para pelaku pasar logam mulia juga sangat antusias. Situasi geopolitik terus dipantau dengan cermat seiring kenaikan harga minyak pada Rabu. Kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, naik 4,3 persen dan ditutup pada level USD103,50 per barel, di tengah memudarnya harapan akan kemajuan diplomatik antara AS dan Iran.

Sehari setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pidato keras di Sidang Umum PBB, Presiden Iran Masoud Pezeshkian membalas dengan pidato yang tak kalah sengit. Pezeshkian menyatakan Iran telah menjadi korban terorisme dan menegaskan negaranya tidak akan pernah menundukkan kepala ataupun bertekuk lutut.

"Tuan Trump dan pihak-pihak yang ingin menindas kami harus memahami bahwa Iran siap untuk berdialog, berdiplomasi, dan bernegosiasi, tanpa mau menerima bahasa kekerasan," ujar presiden Iran tersebut.

Harapan akan adanya kemajuan diplomatik sempat menguat pada hari Selasa setelah Trump mengonfirmasi bahwa perwakilannya telah berbicara dengan delegasi Iran selama tiga jam dan menyebut pertemuan itu sangat baik.

Namun, pada Rabu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sedikit meredam optimisme tersebut dengan menyatakan bahwa ia tidak menganggap pembicaraan itu sebagai terobosan besar, melainkan lebih sebagai kelanjutan dari percakapan yang sudah pernah terjadi sebelumnya.

"Meski demikian, menurut saya fakta bahwa setidaknya ada percakapan yang terjadi merupakan hal yang signifikan," tambahnya.

(Eko Nordiansyah)